Siswa SMK 2 Langsa Ciptakan Alat Pengubah Air jadi Bahan Bakar Kendaraan

Siswa SMK 2 Langsa Ciptakan Alat Pengubah Air jadi Bahan Bakar Kendaraan
Setelah sempat siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) melambung karena karyanya melalui sebuah mobil Esemka, kini siswa SMK Negeri 2 Langsa, Aceh membuat inovasi baru dengan menciptakan alat pengubah air menjadi bahan bakar kendaraan.

Dengan bimbingan sang kepala sekolah, Makmur Lingga, penelitian dan pengembangan alat ini dilakukan sudah sejak 3 tahun lalu, bekerja sama dengan lembaga penelitian bernama Green Energy Institute.

"Alat ini bisa digunakan untuk kendaraan bermotor roda 4 hingga 12," ujar Kepala Sekolah SMKN 2 Langsa, Makmur Lingga. "Kita kan butuh peralatan yang tidak sedikit, sehingga kita juga kerja sama dengan perusahaan di Jakarta, Pronto Engineering. Setelah tiga tahun kita kembangkan ternyata membuahkan hasil," lanjut Makmur.

Menurut Makmur ini bukanlah penemuan baru karena sebelumnya pada 1833 ilmuwan Michael Faraday telah mengenmbangkan dengan elektrolisa air yang mengubah muatan elektron maupun atom. Alat ciptaan siswa SMKN 2 Langsa ini diberi nama WaVe++SMK yang mempunyai kepanjangan Water as a Vehicle's Fuel. Nama SMK sengaja dilekatkan pada alat ini sebagai bentuk apresiasi kepada SMKN 2 Langsa sebagai institusi pengembang dan perakit alat tersebut.

"Ini masih belum 100 persen air, baru sekitar 50 persen. Air masih belum jadi bahan bakar langsung. Ke depannya kami ingin mengembangkan bisa air 100 persen jadi bahan bakarnya," tutur Makmur.

WaVe++SMK terdiri dari 5 komponen yakni generator gas, filter, kontrol elektrik, tangki air, dan pengaturan tegangan. Bahan-bahan utama pembuat alat itu adalah stainless steel. Dengan menggunakan alat ini, kita bisa menggunakan 600 ml air bersih untuk kendaraan roda empat, hingga daya tempuh 2.000 km.

"Ada generator gasnya. Jadi kita campurkan kimia, lalu ada pemanasan dialirkan melalui alat pengubah molekul yang disebut generator gas. Setelah air mengalir lalu diubah gas dan masuk filter, lalu masuk ke intake manipol mesin," paparnya. "Masih tetap menggunakan bensin atau solar, tapi pemakaiannya jadi lebih irit. Selain itu memperbaiki emisi mesin sehingga jadi ramah lingkungan. Bisa membantu mengurangi emisi 20-60 persen," tambahnya.