Imbas Media Sosial, 3.119 Warga Semarang Lakukan Perceraian

Imbas Media Sosial, 3.119 Warga Semarang Lakukan PerceraianIlustrasi sidang perceraian @republika.co.id
Warga Semarang yang baru saja pulang dari Arab Saudi sebagai buruh migran kesal dengan suaminya lantas mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan di kawasan Tambakaji, Semarang.

Sebut saja namanya Susanti (31), dirinya mengaku menggugat cerai suaminya sebut saja Mirza (53) lantaran saat pulang ke rumah tak ada sambutan sama sekali. Malahan rumah mereka kosong dan terkunci.

"Iya, Mas. Ini sidang ketiga. Saya mengajukan gugat cerai kepada suami saya. Saya telepon enggak diangkat. Mungkin sudah punya pacar atau istri baru," kata Susanti di Pengadilan Agama Kota Semarang, dikutip dari merdeka.com.

Sementara Mirza yang bekerja di toko oleh-oleh yang memproduksi bandeng presto di Jalan Pandanaran Semarang ini mengaku bahwa istrinya menghubungi dirinya dengan nomor baru.

"Saya kan kerja. Rumah kosong ya dikunci. Dia telepon pakai nomer baru, mana saya tahu. Enggak ada omongan apa pun di rumah, tahu-tahu saya dipanggil untuk sidang perceraian ini," kata Mirza.

Tak hanya itu Mirza yang tak tahu apa-apa dan tiba-tiba dipanggil untuk melakukan gugatan cerai ini mengaku jika istrinya kerap berhubungan via telpon tengah malam entah dengan siapa.

"Istri saya kan masih muda. Kalau di rumah, mainannya hape melulu. Kadang tengah malam dia telepon entah dengan siapa," kata Mirza.

Menurut data di Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Semarang, tercatat selama 2015 ada 3.119 kasus perceraian di Semarang. Dimana 2.197 istri yang menggugat cerai dan 922 suami melakukan talak secara hukum melalui persidangan di Pengadilan Agama.

Pada Februari 2016 hingga tanggal 25 Februari lalu ada 214 kasus perceraian. Bedanya, Februari 2016 kasus suami mengajukan talak mendominasi dan mencapai 161 kasus, sisanya 53 kasus gugat cerai.

"Sehari ada 25-20 perkara yang mengajukan gugatan perceraian. Paling banyak hari Senin yang mengajukan," kata Drs M Sukri SH MH, Humas Pengadilan Agama (PA) Kelas IA Semarang.

Tak hanya itu saja, Sukri juga mengatakan bahwa pergeseran pandangan hidup di masyarakat yang sebelumnya menganggap tabu jika istri menggugat cerai suaminya mencapai 70 persen.

Lagi-lagi dampak media sosial membuat hubungan asmara bahkan rumah tangga harus kandas di tengah jalan. Gampangnya membuat akun Facebook, Twiter, Path dan media lainnya memudahkan orang saling terhubung, meski tidak mengenal secara nyata.

"Salah satu faktor yang menjadi penyebab adalah keterbukaan informasi. Para istri menjadi sadar akan aturan-aturan seperti ini untuk menuntut haknya di Pengadilan Agama. Biasanya cemburu dipicu lewat status Facebook, BBM, atau lainnya. Ada juga SMS yang dijadikan alasan tuduhan adanya perselingkuhan. Bahkan ada yang membawa print out percakapan di media sosial sebagai barang bukti," kata Sukri.

Sementara untuk mereka yang mengajukan gugatan cerai di usia 30-40 tahun ini sebagian banyak dikarenakan rasa bosan.

"Pada usia itu mereka mendekati garis-garis kebosanan. Kebanyakan baru menikah tiga-lima tahun. Ada juga yang baru setahun menikah," kata Sukri.

Seorang manajer marketing perusahaan otomotif Windarto mengatakan bahwa dirinya tak betah di rumah dan suasananya membosankan bahkan dirinya juga telah menjalin perselingkuhan dengan seorang janda lewat media sosial.

"Masih bekerja di Malaysia. Rencana April nanti kontraknya habis dan pulang ke Indonesia. Meski TKW kalau pas video call kelihatan canggih, Mas. Istri saya kalah hot," kata Windarto.
De