Perjuangan Lulusan S2 Terbaik IPB, Jual Pisang Goreng Mulai Subuh

Perjuangan Lulusan S2 Terbaik IPB, Jual Pisang Goreng Mulai SubuhSusi Sianturi @tribunnews.com

Susi Sianturi tak bisa membendung perasaan harunya saat mengikuti wisuda mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB). Dalam wisuda tersebut, Susi lulus dengan predikat cum laude.

"Saat S-1, saya kuliah di IPB juga ambil jurusan peternakan. Terus saya nyambung S-2 lagi di IPB," ungkapnya.

Susi menceritakan perjuangannya sembilan tahun silam yang harus kuliah S1 sambil berjualan pisang goreng. Sebab, selama sebulan Susi hanya mendapat kiriman Rp 300 ribu dari orangtuanya yang berada di Tapanuli Utara, Medan.

Setiap subuh selama semester III, dia menjalani usaha kecil-kecilan bersama rekannya. Pada saat hari Minggu, dia ganti berjualan perabotan keperluan mahasiswa.

"Jadi, tiap Minggu, saya dan teman saya berjualan sambil buka stan gitu. Hasilnya juga lumayan," kata Susi.

Menginjak semester genap, dia mencari tambahan uang dengan bekerja sebagai guru les SD dan SMP. Penghasilannya lebih lumayan dibanding berjualan gorengan, yakni Rp 900.000 per bulan.

Dia kemudian mengajar pelajaran matematika untuk SMP dan semua mata pelajaran untuk pelajar SD. Setahun kemudian di semester VI akhir, Susi mencoba mendapatkan beasiswa. "Beasiswanya untuk mahasiswa tidak mampu, tetapi itu saya dapat pas akhir kuliah sampai saya lulus,", tuturnya.

Akhirnya perjuangan Susi terbayar dengan lulus S1 meraih nilai IPK 3,32.

Setelah lulus, Susi bekerja di perusahaan peternakan sebagai bagian marketing obat ternak. Selama 3 tahun bekerja, dia akhirnya berhenti dan melanjutkan S2.

Ibu dua anak itu berhasil mendapat beasiswa dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Selama kuliah pasca sarjana di jurusan Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan, dia sepenuhnya menggunakan dana beasiswa.

"Saya ingin S-2 karena saya bertekad jadi dosen karena beasiswa ini juga program untuk pra-dosen," ucapnya.

Dua tahun berselang, Susi berhasil lulus dengan hasil memuaskan. Niali IPK-nya juga tinggi, yakni 3,91.

Saat ini Susi tinggal menunggu pengumuman penempatan untuk mengajar. "Saya ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS) seperti apa yang diinginkan orangtua," katanya.

Nay