Komika Stand Up Comedy, Ephy ternyata juga memiliki pengalaman menarik seputar kaum LGBT. Apalagi karena lelaki asal Kupang ini mengaku mempunyai teman yang bersikap kemayu alias banci.
Sebagai teman yang baik tentunya Ephy berusaha mengembalikan temannya tersebut ke jalan yang benar. Caranya pun tergolong ekstrem, Ephy berusaha memancing kejantanan temananya keluar dengan memukul bahkan menendang.
"Bukan homo, dia kayak bencong, alay sadis lah. Kita didiknya dengan keras, kita pukul setiap hari, ditampar, sampai dia emosi, dan kita berkelahi. Agar sifat laki-lakinya keluar, terus kita beri dia blue film, sewa PSK. Puji Tuhan sudah jadi laki-laki sampai sekarang," ungkap Ephy di Cibubur, Jakarta Timur, Jumat (12/2), seperti dikutip Merdeka.
Namun cara yang ditempuh Ephy ini ternyata ditentang oleh Seksolog Wimpie Pangkahila. Menurut Wimpie, seseorang tak dapat menilai orang dengan penyimpangan tertentu sembuh tanpa adanya pengetahuan atau ilmu yang memadai. Lebih lanjut Wimpie menyebutkan bahwa kesembuhan dari seseorang tergantung dari pemeriksaan secara menyeluruh yang dilakukan oleh ahlinya.
"Yang bilang sembuh siapa? Dia kan bukan ahlinya, tidak bisa dikatakan seseorang sembuh saat kembali perilaku normalnya setelah dilakukan tindakan kekerasan seperti itu," ujar Wimpie, Rabu (17/2).
Wimpie menambahkan, untuk melakukan terapi pada seseorang yang berperilaku abnormal harus memandang dari sejumlah faktor, yakni biologis, perkembangan masa kecil, lingkungan, dan kultur budaya setempat.
"Kita harus lihat dulu dia kenapa, kalau memang dari lingkungan ya bawa saja orang yang bermasalah tersebut keluar dari lingkungan itu, kalau memang sudah faktor biologis mau diapakan lagi engak bisa kita paksa dengan cara-cara aneh seperti itu," paparnya.
Di bidang kedokteran atau seksolog sendiri tidak mengenal cara kekerasan dalam bentuk apapun untuk proses penyembuhan dari perilaku menyimpang. "Ya, memang tujuannya baik tapi ada pemeriksaan terlebih dahulu hal itu (perilaku abnormal) terjadi dari faktor apa," katanya.
Walau tak bersedia menjelaskan apa akibat dari 'terapi' salah kaprah semacam itu, Wimpie mengatakan bahwa kemungkinan kelak orang tersebut bisa mengalami trauma yang mendalam.
"Wah kalau ngomongin dampaknya itu panjang tapi tidak menutup kemungkinan si dia (sosok perilaku menyimpang) bisa saja trauma," tandasnya.