Pameran Seni Siswa SMA Bandung, Tak Didukung Guru Jalan Terus

Pameran Seni Siswa SMA Bandung, Tak Didukung Guru Jalan TerusPameran lukisan swadaya siswa SMA 5 Bandung @detik.com

Sejumlah pelajar SMAN 5 Kota Bandung menggelar pameran seni untuk ketiga kalinya, pada 12 sampai 16 Februari 2016 di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 5 Bandung.

Tanggal 12 Februari sengaja dipilih untuk pameran karena bertepatan dengan terbentuknya ekstrakurikuler seni mereka.

"Kami (ekstrakulikulernya) bergerak di bidang seni, apa lagi yang kami capai selain pameran seni ini?" ujar Faris, sekretaris Five Art Exhibition, ketika ditemui di Gedung Indonesia Menggugat.

Hajatan pameran ini diwarnai aksi penolakan dari pihak guru, namun, siswa yang tergabung ekskul Five Art akhirnya nekat menggelar pameran sesuai jadwal semula secara mandiri.

Ada 49 lukisan yang dipamerkan. Lukisan tersebut merupakan karya dari anak-anak kelas satu dan tiga SMA.

Ketua panitia Affif Kusumah (16) menjelaskan pihaknya mencari pendanaan acara ini secara swadaya.

"Untuk pendanaan kita mencarinya door to door, ada yang hasil usahanya disumbangkan untuk modal pameran," kata dia.

Para siswa cukup antusias mengumpulkan dana, seperti berjualan kue hingga menawarkan jasa menggambar. Selain itu, pihak alumnus juga memberikan bantuan sebab acara pameran ini adalah hal sakral bagi mereka.

Affif mengungkapkan, pada akhirnya ada sejumlah guru yang datang ke lokasi pameran. "Respon pihak sekolah sebelumnya kurang bagus. Sekarang setelah melihat hasil pameran, mereka cukup baik. Ada sekitar 10 guru yang datang ke sini," katanya.

Saat acara pembukaan, tak ada satupun guru yang datang. Meski demikian, dia berharap ke depan sekolah dan para guru memberikan perhatian lebih pada kegiatan kesenian.

"Kami tak peduli nilai kami menjadi bagus dengan menggelar pameran ini. Bagi kami mereka sudah datang melihat pameran kami senang banget. Ke depan diharapkan sekolah mendukung acara kami," ujarnya.

Kurator pameran, Falah Fadhlurrahman Syafei memuji keberanian para siswa itu menggelar pameran seni secara swadaya ini. Menurut dia, prestasi siswa tidak melulu dalam bentuk akademik, namun juga kesenian.

Syafei menilai para guru dan sekolah berpikiran negatif dan memandang seni sebagai sesuatu yang sulit dimengerti sementara jembatan kesenian dengan awam masih kurang.

"Akhirnya guru-guru pada datang, meski sebelumnya tidak setuju dengan kegiatan seni rupa komunitas kami," katanya seraya menjelaskan bahwa para anak-anak itu mampu menggelar pameran tanpa dukungan sekolah.

"Mereka punya bakat dan minat, dan kegiatannya pun positif. Bisa dibilang sangat jarang anak yang masih di bangku sekolah menggelar pameran seni rupa," pungkasnya.

Nay