4 Perbedaan Perusahaan Tiongkok VS Jepang di Mata Buruh

4 Perbedaan Perusahaan Tiongkok VS Jepang di Mata BuruhBuruh Indonesia di perusahaan asing @kompas.com

Perusahaan-perusahaan Tiongkok kini gencar menanamkan modalnya di Indonesia. Contohnya produsen otomotif SAIC-GM-Wuling (SGMW) yang membangun pabrik mobil di Bekasi, Jabar dengan nilai investasi sebesar Rp 9,7 triliun.

Hal berbeda terjadi pada perusahaan Jepang dan Amerika yang perlahan tapi pasti menghentikan penjualan dan memilih angkat kaki dari Indonesia.

Presiden Konfederasi ‎Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, ada sejumlah perbedaan mendasar antara perusahaan Tiongkok dengan Jepang dan Amerika, utamanya dalam hal tenaga kerja.

Pertama, dari sisi penyerapan tenaga kerja. Perusahaan Jepang dan AS tidak menyertakan tenaga serabutan bekerja di industri yang modalnya mereka tanamkan. Sementara perusahaan asal Tiongkok, menyerap tenaga kerja unskill.

"Ini mengancam tenaga kerja lokal dan berarti investasi tidak membuka lapangan kerja baru. Misalnya perusahaan baja diPulogadung, jumlah tenaga kerjanya 300 orang, 100 orang diantaranya pekerja asal China, seperti tukang masak, tukang batu, sopir forklift‎, dan itu ilegal. Makanya mereka ngumpet kalau ada pemeriksaan," ujarnya di Jakarta, Kamis (4/2).

Kedua, soal lama investasi. Perusahaan Jepang dan AS sudah sejak lama menanamkan modalnya di Indonesia. Sementara perusahaan Tiongkok barus saja, dan langsung dalam skala besar.

"China ini belum teruji, faktanya investasi China kalau tidak untung mereka kabur. Pabrik dan mesinnya sewa sehingga tinggal kabur badan. Itu terjadi di perusahaan tekstil, garmen, komponen elektronik yang kecil-kecil," kata dia.

Ketiga, perusahaan AS dan Jepang selama ini tunduk pada aturan pemerintah, seperti membayar upah sesuai UMP, lalu jaminan kesehatan, hingga dana pensiun.

"Perusahaan China di Pulogadung misalnya, itu membayar upah dibawah upah minimum. UMP DKI kan saat ini Rp 3,1 juta, tetapi pekerjanya ada yang masih dibayar Rp 2,6 juta, ada yang Rp 2,8 juta," jelasnya.

Keempat, saat ini Tiongkok berinvestasi di bidang mercusuar, seperti kereta cepat, pembangkit listrik 35 ribu megawatt (MW). Sementara Jepang dan AS merupakan investasi produk dananya berasal dari kocek pribadi perusahaan.

"China meminjam pada dana B to B yang sifatnya meminjam dana dari negara. Karena mereka mengandalkan bank infrastruktur Asia yang didirikan China sebagai pelaku utama, seperti kereta cepat. Tetapi ketika mereka rugi, maka yang akan menanggung adalah negara," tandasnya. Demikian dilansir dari Liputan6.

Nay