Kisah Bripka Eka, Polwan Cantik Nyambi Jadi Tukang Tambal Ban

Kisah Bripka Eka, Polwan Cantik Nyambi Jadi Tukang Tambal BanBripka Eka Yuli Andini @merdeka.com

Dara cantik bernama Eka Yuli Andini setiap harinya membantu meringankan beban pekerjaan ayahnya yang hanya seorang buruh tukang tambal ban. Meski demikian, gadis 19 tahun itu tidak pupus akan cita-citanya menjadi polisi wanita.

Hebatnya, Eka yang merupakan lulusan SMK Negeri 2 Salatiga jurusan Teknik Komputer dan Jaringan ini berhasil diterima tanpa uang suap setelah menempuh pendidikan kepolisian Pusdik Binmas, Banyu Biru, Ambarawa, Jawa Tengah. Tidak hanya itu, selama masa pendidikan sebagai Sekolah Calon Bintara (Secaba), Eka mengukir prestasi rangking ke-7 dari 7.000 peserta lainnya saat pendidikan kepolisian se-Indonesia.

Kini, anak pertama dari dua bersaudara pasangan Sabirin (49) dan Darwanti (40) sudah dua bulan menjadi polwan. Walau kini sudah menjadi Bripka Eka, namun dia tidak pernah lupa membantu ayahnya mengelola bengkel sederhana yang berada di Jalan Veteran, Pasar Sapi RT 2 RW 6, Kota Salatiga, Jawa Tengah.

"Ayah saya selain kerja tukang tambal ban juga tukang bersih-bersih masjid sejak tiga atau empat tahun yang lalu," ungkapnya, dilansir dari Merdeka, Selasa (24/2).

Bripka Eka mengatakan sebenarnya ingin berkarir di sebuah stasiun televisi besar berskala nasional. Oleh karena itu dia mengambil jurusan Teknik Komputer dan Jaringan agar bisa mengenal seluk beluk dunia televisi atau bidang broadcasting.

"Orangtua saya nggak pernah mengarahkan. Saya awalnya pingin kerja di broadcast, bagian editing dan ahli animasi karena saya ingin bekerja di stasiun tv terkenal. Pernah membuat web dengan teman-teman. Suka saja ngedit video, ngedit foto pokoknya yang berbau desain grafis lah," ungkapnya.

Namun, menjelang lulusan, ujarnya, dia mendapat dorongan dari Mara Tilofashanti salah satu gurunya yang mengetahui ada sosialisasi penerimaan polwan dari Polresta Salatiga. Setelah itu Eka mencoba mengikuti seleksi penerimaan Secaba Polri di Kota Semarang, Jawa Tengah.

"Sebelum jadi polwan. Awalnya aku sempat daftar salah satu perusahaan perkabelan automotif di PT Autocom di Subang, Jawa Barat. Saat itu tes tertulis dulu. Terus dapat panggilan ke Semarang untuk seleksi setelah tes kesehatan di Polri. Kemudian bebarengan, saya milih seleksi di Polri saja kemudian mengikuti tes kesehatan dan membatalkan untuk tes di PT Autocom. Ingin cepet kerja biar bisa bantu ayah dan tidak menambal ban terus," tutur gadis berkelahiran 30 Juli 1996 ini.

Bripa Eka ingin berangkatkan orang tua naik haji.

Gadis berparas imut dengan tinggi badan 156 cm dengan berat hanya 48 kilogram ini mengatakan sangat menyayangi kedua orang tuanya.

"Bagi saya kedua orang tua saya adalah ibarat malaikat yang diturunkan Tuhan untuk menjaga saya. Dan untuk membahagiakan mereka saya harus bekerja keras dan bisa buktikan bisa lebih baik dan lebih maju dari mereka. Kalau orang tua saya profesinya jadi tukang tambal ban, jangan sampailah anaknya juga jadi tukang tambal ban. Akhirnya, dengan ketekunan dan kegigihan harus bisa saya buktikan?" ujarnya.

Oleh karena itu, Bripa Eka berharap bisa memberangkatkan kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji.

"Saya pingin banget naikin haji orang tua saya. Hanya itulah yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan kedua orang tua saya. Memang, sulit membalas budi jasa orang tua yang telah membesarkan dan menjadikan saya jadi orang (polwan) begini. Balas budi dalam bentuk menaikkan hajipun saya rasa belum cukup," ungkapnya.

Selain itu, dirinya juga ingin membelikan kedua orang tuanya rumah sebab saat ini mereka hanya tinggal di rumah kontrakan sangat sederhana yang hanya berukuran 6 meter X 6 meter.

Nay