Ilustrasi @kaskus.co.idDampak kebijakan Presiden Joko Widodo menaikan harga BBM bersubsidi disikapi dengan cara berbeda oleh para pelajar di daerah. Di Garut misalnya, siswa SMAN ogah memajang foto orang nomor satu itu di depan kelasnya.
Hal ini diungkapkan oleh seorang guru bernama Ahmad Nurodi di Facebooknya.
"Kejadian nyata di sebuah sekolah. Gur : Anak-anak cepat pasang itu foto Presiden. Murid: Enggak mau Pa. Enggak PD masangnya. Guru : Kenapa? Jangan gitu kalian teh, gitu-gitu juga Presiden kalian. Murid : Enggak mau ah Pa. Soalnya yang satu peot, yang satu sudah kakek-kakek. Ditambah BBM naik. Saya naik angkot ke sekolah mogok lagi. Guru : beuuh".
Peristiwa serupa juga terlihat di SDN Mongor, Kabupaten Garut. Namun kali ini guru juga ikut malas-malasan memasang foto Jokowi dan JK karena keberatan dengan kenaikan harga BBM. Akibatnya, di dinding kelas hanya tergantung lambang Garuda saja.
"Ongkos angkot ke sekolah kan naik gara-gara BBM naik. Padahal uang saku mah tetep aja enggak nambah" kata Farli, murid SMP PGRI Limbangan Garut, Senin (24/11).
Sementara itu, pengakuan berbeda disampaikan oleh Fahmi Dini Mahasiawa Kedokteran Universitas Padjadjaran, ia berkata, "Kemarin di aula kampus saya juga belum ada foto presiden dipasang." Namun Fahmi tidak mengetahui alasan kampusnya belum memajang foto RI 1 dan RI 2. Diyakini, fenomena seperti ini juga terjadi di daerah-daerah lain. Demikian dilansir dari Republika.