ilustrasi @stocksonwallstreet.netZaman sekarang, posisi perempuan bisa dibilang setara dengan laki-laki, bahkan bukan hal yang mengejutkan lagi bila seorang bos perusahaan besar dipegang oleh seorang perempuan. Namun apakah mereka benar-benar bisa menjalani profesi tersebut layaknya laki-laki?
Jawabannya adalah bisa, namun perlu usaha yang lebih keras, terutama ketika perempuan memiliki pekerjaan yang termasuk di dalamnya mempekerjakan, memecat, dan mempengaruhi gaji orang lain. Inilah yang membuat bos perempuan memiliki risiko depresi 9 persen lebih tinggi dari laki-laki.
Kesimpulan tersebut diambil dari survei yang dilakukan oleh peneliti dari University of Texas, Austin. Dimana mereka meneliti sekitar 2.800 pria dan wanita berusia paruh baya yang diambil dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Wisconsin dari tahun 1993 sampai tahun 2004 yang terdiri dari 1.300 laki-laki dan 1.500 perempuan.
Studi yang telah di publikasi di jurnal Health and Social Behaviour ini menemukan fakta bahwa faktor lain yang mungkin juga dapat menyebabkan depresi adalah jam kerja dan pengawasan atasan telah dikontrol.
"Para bos perempuan memiliki pendapatan yang lebih tinggi, pekerjaan yang lebih bergengsi, dan tingkat otonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang tidak memiliki otoritas. Akan tetapi kesehatan mental bos perempuan lebih parah dari perempuan dengan status yang lebih rendah," ujar Tetyana Pudrovska, ketua peneliti, seperti dikutip dari BBC pada Jumat (21/11/2014).
Terkait penelitian ini Dr Ruth Sealy dari City University, London mengatakan bahwa depresi tersebut muncul karena masih ada diskriminasi gender. Hal ini dikarenakanperempuan 'terperangkap' potret seorang pemimpin yang baik dan feminin.
Saat perempuan mengambil perilaku pemimpin yang maskulin mereka akan dikritik tidak feminim. Tapi saat pemimpin perempuan mengambil sifat feminim, rekan kerjanya akan kurang percaya bahwa ia memiliki sifat pemimpin yang baik.
"Karena kita menganggap kompetensi 'alami' pria sebagai pemimpin, perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk mencapai posisi tersebut di mana saat tercapai kemudian 'kompetensinya'akan terus dipertanyakan," tutup Dr Ruth.