Kpi Tegur 4 Infotainment Soal Video Porno Mirip Ariel

kpi tegur 4 infotainment soal video porno mirip ariel

4 acara gosip dapat teguran KPI , soal video porno mirip Ariel, Luna, dan Cut Tari.

Terkait kasus video porno mirip Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari, yang beredar di beberapa stasiun televisi mengundang KPI untuk mengambil tindakan tegas sejak 8 Juni lalu tetapi sangat disayangkan beberapa lembaga penyiaran melalui program-program tertentu tetap menayangkan video cabul mirip artis tersebut secara vulgar dan provokatif.

Menurut Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Dadang Rahmat Hidayat, hampir semua infotainment dikirimi surat teguran soal penayangan video porno mirip artis.

"Kami melayangkan teguran kepada 11 lembaga penyiaran dan sebagian besar di antaranya adalah infotainment, hampir semua program itu kami tegur," kata Dadang Rahmat Hidayat di Jakarta, Sabtu (12/06/10).

Pihaknya juga memberikan sejumlah catatan terhadap beberapa program siaran yang menayangkan isi siaran terkait video cabul tersebut.

"Sampai saat ini kami masih memantau dan kami terus mengharapkan partisipasi masyarakat," katanya.

Sejumlah program yang mendapat teguran KPI di antaranya:

  • I Gosip Pagi (Trans 7) Pada 9 juni 2010 ditegur karena menayangkan adegan dan gambar cuplikan video porno mirip artis. Hal itu dinilai KPI melanggar karangan adegan muatan seks, penghormatan privasi dan perlindungan terhadap kepentingan anak. KPI telah melayangkan peringatan agar tidak menyiarkan adegan video porno.
  • Obsesi (Global TV) Pada 9 Juni 2010, ditegur karena menayangkan adegan dan gambar cuplikan video porno mirip artis. Program itu juga dinilai KPI telah melanggar karangan adegan muatan seks, penghormatan privasi dan perlindungan terhadap kepentingan anak. Program itu juga tayang pasca-dilayangkannya surat teguran KPI pada 8 Juni 2010.
  • Go Spot (RCTI) Pada 10 Juni 2010, ditegur karena menampilkan anak artis Cut Tari yang digendong oleh artis yang bersangkutan ketika diwawancara soal video porno. Tayangan itu dinilai melanggar perlindungan terhadap kepentingan anak, remaja, dan privasi. Teguran itu kemudian menjadi teguran kedua bagi Go spot yang pada 2009 pernah ditegur karena menampilkan sosok orang memakai kaus bergambar palu arit.
  • Kiss Plus (Indosiar) Pada 5 Juni 2010. Meskipun tayang sebelum konferensi pers atau surat peringatan, namun KPI memandang perlu memberikan teguran kepada Indosiar karena tayangan dalam Kiss Plus dinilai sangat parah dan secara terus-menerus menampilkan potongan video porno mirip artis.

Dadang menegaskan, pihaknya tidak akan segan-segan memberikan sanksi kepada lembaga penyiaran yang tetap menyiarkan video cabul secara vulgar dan provokatif sampai sanksi terberat yakni penutupan program siaran hingga pemidanaan.    

Habis di tegur, tayangan TV Vulgar mulai berkurang

"Hingga dengan hari ini, dari hasil pemantauan langsung KPI Pusat, sudah terdapat perubahan terhadap pemberitaan dan infotainment terkait kasus tersebut," kata Dadang Rahmat Hidayat, Sabtu (12/06/10).

Sebelumnya, pihaknya telah melayangkan surat peringatan kepada 11 lembaga penyiaran televisi soal pelarangan tayangan cabul yang diduga artis dan pasca-pelayangan surat sampai saat ini sudah tidak banyak lagi stasiun televisi yang menayangkan tayangan video cabul yang diduga artis itu.

"Bahkan ada stasiun televisi yang sama sekali tidak menayangkan gambar-gambar atau adegan yang terdapat dalam video cabul tersebut," kata Dadang.

Jika pun ada yang masih menayangkan tayangan-tayangan video tersebut, lanjut dia, gambarnya sudah tidak bergerak, sudah diberi blur dan tidak diulang-ulang.

Pihaknya menilai kuantitas penayangan video tersebut sudah tidak banyak lagi.

Meskipun demikian, Dadang berharap agar pemberitaan ataupun infotainment tentang kasus video cabul tersebut untuk lebih berhati-hati dan tidak lagi menayangkan gambar-gambar dari isi video cabulnya.

"Gambar-gambar tersebut bisa digantikan gambar atau tayangan lain yang lebih baik," katanya.

Dadang sendiri menyatakan sangat memberikan apresiasi kepada stasiun televisi yang tidak menayangkan gambar atau memberitakan kasus video cabul secara vulgar dan provokatif.

Pihaknya menegaskan, tidak akan segan-segan memberikan sanksi tegas kepada lembaga penyiaran yang masih menyiarkan video porno mirip artis itu secara vulgar berupa sanksi teguran hingga yang paling berat penutupan program siaran.

Sebanyak 11 lembaga siaran atau hampir seluruh stasiun televisi di Indonesia dikirimi surat peringatan, dan hampir sebagian besar program siaran yang mendapat teguran adalah program infotainment.

Dadang menambahkan, surat peringatan yang dilayangkan kepada seluruh stasiun TV mengenai siaran berita dan infotainment yang menayangkan video cabul yang diduga melibatkan beberapa artis atau orang terkenal berisi tujuh hal penting.

Surat peringatan bernomor 257/K/KPI/06/10 itu meminta Lembaga Penyiaran TV untuk mematuhi ketentuan-ketentuan isi siaran dalam program faktual.

  • Pertama, program siaran pemberitaan wajib memperhatikan prinsip-prinsip jurnalistik dengan tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik (UU No.32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran Pasal 42).
  • Kedua, program siaran dilarang menonjolkan muatan cabul (UU No.32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran Pasal 36 ayat 5b).
  • Ketiga, program siaran wajib memberikan perlindungan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja (UU No.32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran Pasal 36 ayat 3 dan Standar Program Siaran 2009 Pasal 13).
  • Keempat, program siaran wajib menghormati privasi sebagai hak atas kehidupan pribadi dan ruang pribadi dari subjek dan objek berita (Standar Program Siaran Pasal 2009 Pasal 11).
  • Kelima, program siaran tidak menampilkan adegan seks sebagaimana dinyatakan dalam Standar Program Siaran 2009 Pasal 16 dan 17.
  • Keenam, program siaran yang menampilkan klasifikasi "Remaja" (R) wajib memenuhi ketentuan Standar Program Siaran 2009 Pasal 39.
  • Ketujuh, program siaran pemberitaan harus akurat, adil, berimbang, tidak beritikad buruk, tidak menghasut dan menyesatkan, tidak mencampuradukkan fakta dan opini pribadi, serta tidak cabul (Standar Program Siaran 2009 Pasal 42 ayat 1.b).

"Cukup banyak aduan masyarakat yang masuk ke kami yang sebagian besar mengeluhkan tayangan tersebut," katanya.

Untuk itu, Dadang bertekad akan terus melakukan pemantauan dan bila ditemukan Lembaga Penyiaran yang melakukan pelanggaran, maka KPI Pusat akan memberikan sanksi sesuai peraturan yang ada.

"Kami juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif memantau semua tayangan dan melaporkan ke KPI dengan fakta dan identitas pelapor yang jelas melalui pengaduan www.kpi.go.id, SMS melalui nomor 0812 130 70000, Faks dan telp ke nomor 6340667/6340713," demikian pungkas Dadang mengakhiri wawancara. (kapanlagi)

Komentar