5 Bisnis e-Commerce di Indonesia yang Tutup

Jum'at, 29 April 2016 12:15
5 Bisnis e-Commerce di Indonesia yang TutupRakuten @twitter.com
Secara mengejutkan startup e-Commerce Shopious mengumumkan tutup menjelang pembukaan e-Commerce Summit and Expo (IESE) 2016. Tutupnya Shopious ternyata bukan masalah dana atau juga gara-gara tidak mendapat investor.

Pendiri Shopious, Aditya Herlambang mengatakan, "Kami masih punya dana yang cukup untuk menjalankan operasional Shopious selama satu hingga satu setengah tahun ke depan."

Ia menuturkan jika perusahaannya juga masih punya dana dari investor. Menurutnya, ekosistem startup di Indonesia mengecewakan, e-Commerce lebih mementingkan memanjakan konsumen dengan berbagai bonus dan tidak berkompetisi secara kualitas produk.

Akibat perang harga ini, startup yang paling banyak membakar uang lah yang akan bertahan. "Pemodal yang paling besar yang akan jadi pemenang," ujarnya.

Dengan fakta seperti itu, Aditya pun tak berani bertaruh dan lebih baik mengembalikan dana kepada investor. Yang lebih menarik, tutupnya e-Commerce Shopious bukanlah yang pertama kali di Indonesia. Sebelumnya juga ada beberapa e-Commerce yang tumbang lebih dulu;

1. Rakuten

Meski telah masuk di Indonesia selama lima tahun, e-Commerce asal Jepang ini memutuskan untuk meninggalkan Indonesia beberapa waktu lalu.

Salah satu penyebabnya adalah perpecahan antara pihak Rakuten dan mitranya, MNC Group. CEO Rakuten, Ryota Inaba mengatakan retaknya kerjasama tersebut adalah karena 'perbedaan filosofi'.

"Dengan memiliki seratus persen saham di Rakuten Belanja Online, kami bisa melakukan banyak hal, dan kami bisa tumbuh cepat," ujar Ryota yang memutuskan untuk menjalankan Rakuten di Indonesia secara mandiri.

Namun, Rakuten mundur dari pasar Indonesia pada 1 Maret lalu dengan alasan yang tak jelas. Diduga, mereka tak betah dengan pertumbuhan ekonomi tak sehat di Indonesia.

2. Paraplou

e-Commerce yang awalnya bernama Vela Asia ini berdiri tahun 2012 yang khusus menawarkan produk busana. Mereka kemudian menyasar kalangan premium dan berhasil mendapat suntikan modal USD 1,5 dari pemodal ventura Singapura, Majuven di awal tahun 2015.

Tak bertahan satu tahun, mereka akhirnya juga bangkrut. Mereka mengaku bermasalah dalam permodalan karena telah nekat bermain di pasar premium. "Kami terpaksa menutup layanan karena kondisi permodalan," ujar pihak Paraplou.

3. Lamido

e-Commerce yang berada di bawah naungan raksasa internet asal Jerman, Rocket Internet ini didirkan di Indonesia pada tahun 2013. Dirut Lamido, Johan Antlov yakin melihat pasar Indonesia dan mengaku melihat potensi besar di bidang e-Commerce.

Namun, rencana menyasar pasang mengenah ke bawah tak terjadi. Selain bersaing ketat dengan Tokopedia dan Bukalapak, Lamido juga bersaing dengan anak usaha Rocket Internet lainnya, Lazada. Lamido pun akhirnya bergabung Lazada pada Maret 2015.

4. Inapay

Startup ini menyediakan rekening bersama dalam transaksi di jagat maya. Inapay sukses memproses 29.466 transaksi hanya dalam waktu tiga tahun. Namun secara mengejutkan mereka mengumumkan tutup pada Januari tahun lalu.

Pengguna Inapay sendiri sebenarnya cukup banyak, yakni 25 ribu orang di awal pembentukannya. Bahkan startup ini sempat mendapat kucuran dana dari Ventura East Ventur. Namun, rencana untuk melipatgandakan pengguna di tahun 2014 tak berjalan mulus.

Mereka memutuskan tutup di tahun tersebut karena menganggap banyak tantangan kerening bersama yang belum terpecahkan, mulai dari edukasi sampai regulasi.

5. Valadoo

Valadoo didirikan tahun 2010 dengan menawarkan layanan travel dan gaya hidup. Situs awal yang dibuat adalah Daily deal yang akhirnya lebih fokus ke ranah travel. Dua tahun berjalan, startup yang dipimpin Jaka Wiradisuria ini mendapat modal dari Wego.

Seiring berjalannya waktu, ia tak melihat ke mana arah Valadoo sebenarnya. Hasilnya, tahun 2014 mereka merger dengan Burufy atau media sosial yang mengunggulkan foto wisata. Merger ini rupanya tak terlalu membantu sehingga pada April 2015 Valadoo memutuskan tutup.
(mks)
Komentar