Dampak Pasar Bebas, Buruh China Banjiri Indonesia

Kamis, 28 April 2016 17:30
Dampak Pasar Bebas, Buruh China Banjiri IndonesiaBuruh China @twitter.com
Lalu lintas pasar tenaga profesional seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya ternyata semakin meningkat akibat terbukanya pasar bebas. Data resmi menunjukkan, kunjungan warga asing ke Indonesia tahun 2015 melonjak sampai 10,41 juta kali.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut terkait pariwisata dan transportasi nasional. Dalam hal ini, perhitungan belum termasuk yang ilegal, melainkan hanya yang menggunakan visa, bebas visa, dan kartu elektronik.

Jumlah itu meningkat 3,12 persen dibanding tahun sebelumnya. Lebih detil, sebanyak 20,80 persen WNA berasal dari Singapura, 15,25 persen dari Malaysia, 10,73 persen Australia, 9,26 persen Tiongkok, dan 4,54 persen Jepang.

Sayangnya, peningkatan jumlah kunjungan ini tak diiringi dengan pengawasan pada bidang imigrasi untuk menemukan WNA yang masuk ilegal hingga banyak masalah disebabkan WNA.

Salah satunya, tujuh pegawai kereta cepat dibekuk dibekuk petugas Pertahanan Pangkalan (Hanlan) saat melakukan pengeboran di sekitar Lanud Halim Perdanakusuma Rabu (2/4) kemarin. Lima di antara mereka merupakan warga negara China.

Pengeboran tersebut adalah tindakan melanggar hukum karena tidak mendapat izin. Parahnya, pekerja asing juga tidak melengkapi diri dengan identitas ataupun paspor.

Lemahnya pengawasan di bidang imigrasi ini dibenarkan oleh Anggota Komisi VIII DPR Khatibul Umam Wiranu. Ia mengatakan, "Ya imigrasi dari dulu kan kita lemah. Semua orang asing masuk tanpa ada pembatasan saya lihat."

Umam mengatakan jika pihaknya perlu memperbaiki dua hal, yakni pengetatan pada lalu lintas barang melalui bea cukai dan lalu lintas melalui migrasi. "Dua-duanya kan jebol (lalu lintas orang dan barang). Narkoba masuk, orang-orang yang enggak punya surat masuk. Ini harus dibenahi pemerintah ini," tegasnya.

Ia juga mengakui jika meringankan syarat WNA masuk ke Indonesia karena pasar bebas akan memiliki dampak buruk. Salah satunya adalah persaingan kerja yang berakhir pada sempitnya lapangan pekerjaan bagi warga lokal.

"Pasti merugikan. Kita ini kan negara yang hakekatnya terjajah oleh bangsa lain. Jadi ya harus melawan. Jadi pemimpinnya juga harus berani melakukan perlawanan," tandasnya.
(mks)
Komentar