Ngeri, Ahli Forensik Sering Didatangi Arwah Jenazah yang Dibedah

Rabu, 27 April 2016 12:45
Ngeri, Ahli Forensik Sering Didatangi Arwah Jenazah yang DibedahAhli forensik Sumy Hastry Purwanti @idntimes.com
Warga Indonesia belakangan ini heboh dengan pemberitaan mengenai pembunuhan seorang ibu hamil yang dimutilasi oleh seorang pria yang tak lain adalah kekasih gelapnya sendiri.

Sebelum diketahui identitas korban yang ternyata bernama Nur Atikah (34) tersebut, penyidik terlebih dahulu berjuang keras untuk melakukan identifikasi jenazah. Bagian tersulit dalam pengungkapan kasus pembunuhan ini dilakukan oleh seorang ahli forensik.

Sementara ahli forensik yang paling berjasa di Indonesia adalah Ajun Komisaris Besar Dr dr Sumy Hastry Purwanti SpF DFM. Ia merupakan dokter forensik perempuan pertama di kepolisian dan telah bertugas belasan tahun di Polri.

Tugas pertama adalah identifikasi jenazah korban Bom Bali I pada 12 Oktober 2002 yang setidaknya merenggut 202 nyawa. Saat itu, sebagian besar korban bukan penduduk Indonesia.

Meski hanya seorang diri di kamar mayat, Summy mengaku tak pernah gentar. "Tidak ada (rasa takut), langsung aja, ya saya pikir itu suatu tantangan saya periksa, saya buka, tutup lagi, saya awetkan jenazahnya, saya mandikan, saya kafani, itu semua saya kerjakan sendiri. Itu sudah biasa," ujarnya.

Perempuan yang tinggal di Semarang ini juga kerap mengajak bicara jenazah yang sedang dibedah. "Sering terjadi, kadang saya ajak bicara kadang nggak jelas gitu. Terkunci di kamar jenazah sering, tertidur di sebelah jenazah juga sering, tapi saya sudah biasa," ujarnya lagi.

Bahkan, Sumy juga sering didatangi arwah jenazah yang sedang ia periksa. Ia mengatakan, "Sering dikasi petunjuk, misalnya dia datang dalam mimpi saya. Misalnya, jenazah wanita yang tidak diketahui identitasnya, penyidik kesulitan ungkap kasus itu, nah malamnya saya mimpiin, 'saya punya anak di sini, saya kerja di sini', terus informasi itu saya kasih ke penyidik, penyidik langsung melacak dan oh ternyata betul."

Selama 16 tahun berkarir, wanita kelahiran 23 Agustus 1970 ini tak menghitung berapa jenazah yang telah diidentifikasinya. "Mungkin bisa masuk MURI, selama 16 tahun tidak terhitung (jumlah jenazah yang berhasil diidentifikasi). Di Jateng tok 100 per tahun, apalagi kalau kasus-kasus bencana," paparnya.

Ia mengaku selalu menyediakan ransel untuk pakaian tiga hari dan sepatu boot untuk menjalankan tugasnya di seluruh wilayah Indonesia maupun luar negeri. Ia juga tak pernah merasa takut jika dibayang-bayangi saat hendak tidur. "Nggak pernah kebayang, bobo ya bobo aja," ujarnya lantas tertawa.
(mks)
Komentar