Hacker Bisa Retas iPhone Cuma Pakai Nomor Ponsel

Selasa, 19 April 2016 11:15
Hacker Bisa Retas iPhone Cuma Pakai Nomor PonselIlustrasi @bitfeed.co
Tak ada yang perlu diragukan jika Apple selalu memprioritaskan keamanan perangkat pengguna. Hal ini terlihat dari perselisihan Apple dengan pihak investigasi Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Namun, meski Apple telah menggarap sistem operasi dengan keamanan tingkat tinggi, seorang hacker di Jerman membuktikan bahwa setiap smartphone pasti punya celah keamanan yang bisa dieksploitasi.

Bahkan sang hacker hanya memerlukan nomor ponsel untuk menjebol perangkat pengguna dan mengetahui aktivitas yang dilakukan, seperti mendengarkan percakapan, membaca SMS, hingga melacak posisinya.

CBS News dalam acara 60 minutes mengundang para hacker untuk membuktikan klaim tersebut dengan memberikan sebuah iPhone milik pejabat Ted Lieu dan memberitahu para hacker nomor ponsel iPhone tersebut.

Secara mengejutkan, para hacker berhasil memutar rekaman dari telepon yang dibuat dari iPhone Lieu. Mereka melakukannya dengan cara mengeksploitasi celah keamanan Signaling System Seven atau SS7, dilansir CBS News.

Jaringan SS7 adalah bagian paling penting dari sistem ponsel di seluruh dunia. SS7 digunakan untuk bertukar informasi mengenai pembayaran oleh pihak perusahaan.

Hacker asal Jerman bernama Karsten Nohl tersebut melakukan demo peretasan iPhone dari Berlin. Ia juga menunjukkan bahwa dia dapat melacak keberadaan Lieu, bahkan jika GPS pada iPhone dalam keadaan mati.

Lieu mengaku terkejut dengan apa yang bisa dilakukan hacker. "Tahun lalu, presiden AS menelepon ponsel saya. Dan kita membicarakan mengenai beberapa masalah. Jadi, jika para hacker dapat menyadap telepon saya, mereka dapat mengetahui apa yang kami bicarakan. Dan juga ponsel sang presiden. Hal ini sangat mengkhawatirkan," ujarnya.

Sementara Nohl mengatakan, "Kemampuan untuk menyadap panggilan telepon via jaringan SS7 adalah rahasia umum untuk badan intelijen di seluruh dunia dan mereka tidak ingin kelemahan tersebut diperbaiki."

"Orang-orang yang mengatakan hal itu seharusnya dipecat. Anda tidak bisa membiarkan 300 juta warga AS dan masyarakat dunia berada dalam bahaya panggilan teleponnya disadap hanya untuk data yang mungkin didapatkan oleh badan intelijen. Hal itu tidak bisa diterima," tandasnya.
(mks)
Komentar