6 Hidangan Tradisional Khas Ramadhan di Indonesia

Sabtu, 21 Juli 2012
6 Hidangan Tradisional Khas Ramadhan di Indonesia
Bulan Ramadhan memang memiliki ke spesialan tersendiri, selain bulan penuh berkah rasa spesial di bulan Ramadhan ini juga muncul dari sisi kuliner khasnya di setiap pelosok Indonesia. Makanan tradisional yang tak lagi ditemui di hari biasa, maka akan bisa anda temui di bulan Ramadhan ini.

Semua menu spesial tradisional ini disuguhkan untuk memanjakan lidah anda yang telah berjuang selama hampir sehari penuh tak mengecap makanan karena berpuasa.

Dan berikut tradisi menyambut Ramadan dari berbagai daerah di Indonesia :

1. Tradisi Lepat Gayo

Selain tradisi Meugang, yaitu menyediakan menu masakan daging menjelang Ramadan, warga beberapa daerah di Aceh juga memiliki tradisi menyiapkan penganan berbuka bernama lepat gayo. Biasanya, menu ini menjadi penutup sahur serta berbuka puasa. Tradisi ini dilakukan oleh warga di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah.

Lepat gayo, sejenis kue basah, dimana adonannya mirip dengan lepat bugis. Hanya saja, lepat gayoberbentuk bulat panjang yang digulung dalam daun pisang. Makanan ini dibuat dari tepung beras ketan, biasanya berisi kelapa manis serta prosesnya dikukus, sekilas bentuknya mirip lemper.

2. Tradisi Nyorog

Di Betawi, ada tradisi Nyorog atau membagi-bagikan bingkisan makanan kepada anggota keluarga yang lebih tua, seperti bapak atau ibu, mertua, paman, kakek atau nenek. Ini menjadi sebuah kebiasan yang sejak lama dilakukan sebelum datangnya bulan Ramadan. 

Bingkisan tersebut biasanya berisi bahan makanan mentah, ada juga yang berisi daging kerbau, ikan bandeng, kopi, susu, gula, sirup, dan lainnya. 

Tradisi ini di masyarakat Betawi memiliki makna sebagai tanda saling mengingatkan bahwa bulan suci Ramadan akan segera datang. Selain itu, tradisi khas Betawi ini dikenal sebagai pengikat tali silahturahmi sesama sanak keluarga.

3. Tradisi Munggahan

Munggahan adalah satu kegiatan berkumpul bagi anggota keluarga, sahabat, bahkan teman-teman untuk saling bermaafan sambil menikmati sajian makanan khas untuk kemudian memersiapkan diri menghadapi Ramadan. Tradisi munggahan berasal dari daerah Sunda, Jawa Barat.

Biasanya, tradisi ini dilakukan oleh hampir semua golongan masyarakat walaupun dengan cara berbeda-beda, tetapi intinya tetap satu, yaitu berkumpul bersama sambil menikmati sajian makanan yang disuguhkan. 

4. Tradisi Meugang


Di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) warganya menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan menyembelih kambing atau kerbau.  Tradisi ini disebut Meugang. Konon, tradisi Meugang sudah ada sejak 1400 Masehi atau sejak zaman raja-raja Aceh. Jika ada warga yang tidak mampu membeli daging untuk dimakan, semua warga akan bergotong-royong membantu agar semua warganya dapat menikmati daging kambing atau kerbau sebelum datangnya bulan Ramadan. Tradisi Meugang biasanya juga dilakukan saat hari raya Lebaran dan Hari Raya Haji.

5. Tradisi potong sapi

Dalam menyambut bulan puasa, warga Bengkulu mulai memotong sapi dan kerbau, dimana dagingnya nanti dijual sesama warga. Tradisi yang sudah dilakukan sejak dahulu ini bertujuan menekan harga daging di pasaran. Bahkan, menurut warga Bengkulu, tradisi ini dipercaya sebagai wujud syukur persembahan serta wujud terima kasih kepada Sang Khalik.

6. Tradisi telur ikan mimi

Menyambut bulan puasa, biasanya masyarakat Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah selalu berebut membeli telur ikan mimi. Tradisi ini menjadi favorit warga, bahkan terasa ada yang kurang bila tidak menyantapnya saat berbuka puasa maupun sahur. Telur ikan mimi sendiri hanya bisa dijumpai pada bulan Ramadan.

Bila dilihat proses penyajiannya, telur ikan mimi seperti gepuk. Telur ikan mimi yang sudah dimasak kemudian dikerok dari cangkangnya, dan dicampur dengan parutan kelapa muda yang sudah diberi bumbu. Bahkan untuk mendapatkan telur ikan mimi, warga rela berdesak-desakan karena khawatir tidak kebagian. Bila tidak kebagian, maka mereka harus menunggu setahun lagi.
Komentar