Cuhat Dosen IPB: Soal UN SMA di Bogor Bocor!

Selasa, 12 April 2016 20:15
Cuhat Dosen IPB: Soal UN SMA di Bogor Bocor!Ilustrasi @tribunnews.com

Seorang Dosen Fakultas Pertanian Intitut Pertanian Bogor (IPB) Ernan Rustiadi, menuliskan curhatannya soal bocornya soal UN Berbasis Komputer (UNBK) di SMAN 1 Kota Bogor.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Edgar Suratman, sendiri belum bisa memastikan kebenaran dari curhatan dosen IPB itu. Sebab, isu kebocoran soal UN selalu ada setiap tahun.

Bahkan, Edgar akan memanggil Ernan soal temuannya itu. "Harusnya pak dosen merapat kalau ada kebenarannya," kata dia.

Senada, Kabid Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Bogor, Jana Sugiana juga yakin tidak ada kebocoran soal UN seperti yang heboh di sosial media.

"Saya yakin tidak ada bocoran, tidak mungkin ada kunci jawaban yang beredar, apa lagi soal UNBK soalnya setiap detik, setiap menit itu berubah," kata Jana.

"Saya yakin tidak ada bocoran, tidak mungkin ada kunci jawaban yang beredar, apa lagi soal UNBK soalnya setiap detik, setiap menit itu berubah," kata Jana.

Berikut curhatan lengkap Ernan di akun Facebook-nya:

Percayalah, "kejujuran dan integritas di dunia pendidikan" adalah barang publik yg paling berharga dimiliki bangsa ini. Ketika kita gagal mempertahankannya maka kita sama2 akan gagal memanen generasi penerus hasil dari proses berkualitas.

Anakku duduk di bangku kelas 3 SMA I Bogor, saat ini tengah menempuh ujian nasional, berbasis komputer (UNBK) begitu risau. Bbrp hari lalu pulang ujian menangis karena setelah ujian hari itu dia mencocokan jawaban dg teman2nya, jawabannya tdk sebaik teman2nya yang memiliki bocoran soal.

Dia khawatir masuk dalam kelompok bernilai terburuk karena teman2nya sdh memilik bocoran jawaban. Malam ini dia meminta pertimbanganku apakah besok di hari minggu perlu mengikuti saran gurunya utk mengambil bocoran soal yg akan dibagikan guru di sekolahnya?

Sebagai mantan dekan di IPB yg terlibat dalam seleksi mahasiswa baru, saya tahu betul tidak ada perguruan2 tinggi besar yang mau dibodohi dengan menggunakan hasil ujian UN dalam seleksi mahasiswanya, karena nilai UN tdk konsisten dengan indikator2 prestasi siswa lainnya. Anakku menjadi lebih tenang karena kedua orangtuanya mendukung anaknya untuk memilih kejujuran. Namun masalah berikutnya sekarang dia di "bully" banyak teman2nya karena sbg minoritas dia jadi sasaran ejekan karena dianggap "sok" jujur.

Saya akui, saya menceritakan ini ke khalayak umum tanpa melakukan pencarian fakta di lapangan. Tapi cerita ini sdh diketahui oleh khalayak banyak sejak lama. Pihak yang berwenang di negeri ini terus membiarkan kejadian ini terulang.

Inilah tragedi atas harta (barang publik) yang terlalu berharga untuk kita diamkan tergerus waktu, harta itu adalah "kejujuran dan integritas di dunia pendidikan".

Dalam kapasitas sy sbg orangtua saya pertaruhkan kejujuran itu di rumah sendiri. Para pejabat yang berwenang, dengan kapasitasnya masing2 ayolah bertindak. Cegahlah guru2 ikut larut dalam ketidakjujuran. Tindak tegas para pembocor soal jawaban....Ayo bertindak.

(Nay)
Komentar