Marahi Jurnalis Muslim, Gelar Nobel Suu Kyi Dipetisi Dicabut

Marahi Jurnalis Muslim, Gelar Nobel Suu Kyi Dipetisi DicabutAung San Suu Kyi @cnn.com

Pemimpin gerakan demokrasi di Myanmar, Aung San Suu Kyi, menuai desakan luas setelah diberitakan pernah memarahi reporter BBC beragama Islam.

"Tak seorangpun memberitahu saya bahwa saya akan diwawancara oleh seorang Muslim," kata Suu Kyi saat ditanya masalah nasib umat muslim dalam kerusahan di Myanmar.

Wawancara itu tak pernah terungkap ke permukaan, hingga akhirnya dibeberkan oleh jurnalis the Independent Peter Popham lewat bukunya berjudul The Lady and The Generals--Aung San Suu Kyi and Burma's Struggle for Freedom.

Akibat pernyataan Suu Kyi, tokoh yang mendapat gelar Nobel Perdamaian pada 1991 itu diminta untuk melepaskan gelarnya sebab dinilai tak pantas.

Hingga kini, petisi di internet yang mendesak Dewan Panitia Nobel di Swedia sudah ditandatangani 16.263 orang.

"Banyak orang di berbagai negara, termasuk Indonesia, menghormati dan terkesan atas sosok Suu Kyi. Dia dikenal sebagai orang yang penyabar, mencintai perdamaian, dan akhirnya meraih kekuasaan lewat jalan damai setelah masa kediktatoran militer di Myanmar berakhir."

"Pernyataan Suu Kyi yang menyinggung soal agama dari wartawan yang mewawancarainya, yang kebetulan Islam, menimbulkan kekecewaan dan kemarahan," demikian tulis petisi online itu.

"Apa yang salah dengan seorang muslim, Suu Kyi? Bukankah demokrasi dan hak asasi mengajarkan untuk menghormati perbedaan agama dan menghormati persaudaraan? Apa pun agamanya, bukankah seharusnya Suu Kyi dan kita saling menghormati dan mendukung tindakan tanpa diskriminasi terhadap orang lain?" lanjut bunyi petisi itu.

"Karena itulah kami menuntut Komite Nobel Perdamaian membatalkan atau mengambil kembali Nobel Perdamaian yang dianugerahkan kepada Aung San Suu Kyi. Hanya mereka yang dengan serius menjaga perdamaian dunia yang layak diganjar dengan hadiah itu," kata pernyataan petisi tersebut.

Beberapa tokoh cendekiawan Indonesia turut memprakarsai petisi online tersebut. Mereka adalah Goenawan Mohamad, Emerson Yuntho, Hamid Basyaib, Didik J Rachbini, Wishnutama, Grace Natalie, Isyana Bogoes Oka, dan banyak lagi.

Nay