Krisis Air Bersih Sebabkan 1 dari 5 Bayi Mati

Krisis Air Bersih Sebabkan 1 dari 5 Bayi MatiKrisis air bersih @spazzinsf.wordpress.com
Memperingati Hari Air Sedunia pada 22 Maret lalu, lembaga nirlaba asal Inggris, WaterAid mengatakan jika masih banyak orang yang kesulitan mendapatkan air yang layak dan murah sehingga wabah penyakit terus menyebar.

Sulitnya mendapatkan air bersih tersebut menimbulkan risiko gangguan kesehatan hingga meningkatnya potensi kelahiran prematur. Bahkan, satu dari limia bayi meninggal dalam bulan pertama kehidupan mereka, dilansir The Independent.

Lebih detil dijelaskan, sekitar 42 persen dari semua rumah sakit yang ada di wilayah Sub-Sahara Afrika tak memiliki akses air bersih. Konsumsi air kotor dan sanitasi buruk merupakan penyebab diare yang merupakan pembunuh anak-anak terbesar kedua setelah pneumonia.

UNICEF melaporkan bahwa setiap tahun ada 315 ribu anak terbunuh karena diare. UNICEF juga menyebutkan jika masalah air bersih semakin parah di lokasi konflik senjata, misalnya Afghanistan dan Suriah.

Banyak orang beranggapan bahwa kaum miskin tidak sanggup membeli air. Namun pada kenyataannya, orang miskin malah membayar jauh lebih mahal dibanding orang kaya.

Pembuat kebijakan WaterAid, Henry Northover mengatakan, "Jika Anda hidup di daerah kumuh di Nairobi, Kenya, Anda harus membayar satu meter kubik air lebih mahal ketimbang mereka yang tinggal di Manhattan."

Dalam studi yang dilakukan WaterAid, diketahui bahwa Papua Nugini memiliki presentase penduduk tanpa air paling tinggi di antara 16 negara paling krisis terhadap air bersih. Ada 4,5 juta orang (60 persen) warga negara tetangga Indonesia tersebut yang tidak memiliki air bersih.

Mereka harus menghabiskan separuh dari penghasilan harian atau sekitar 1,84 pound sterling untuk menikmati air yang direkomendasikan organisasi kesehatan dunia (WHO).

Sementara itu di India setidaknya ada 76 juta orang yang hidup dengan air kotor. Indonesia ternyata berada di urutan ke-6 dari 10 negara paling krisis air, ada 32 juta warga Indonesia yang tidak bisa mendapat air bersih.

Menanggapi masalah ini, Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan jika ketersediaan dan distribusi air yang cukup bisa mengubah hidup seseorang. Air adalah salah satu faktor yang punya pengaruh besar bagi kehidupan seseorang.

Ia mengatakan, "Pemenuhan dasar atas air, sanitasi, dan layanan yang bersih di rumah, sekolah, dan tempat kerja membuat ekonomi menguat karena ditopang oleh populasi dan tenaga kerja yang sehat dan produktif."
mks