Buat Bensin dari Minyak Jelantah, Mahasiswa UGM Raih 4 Medali Emas

Buat Bensin dari Minyak Jelantah, Mahasiswa UGM Raih 4 Medali EmasMahasiswa UGM yang buat bensin dari minyak goreng @ugm.ac.id
Minyak goreng hampir selalu digunakan untuk memasak. Sayangnya, saking banyaknya menggunakan minyak goreng, banyak masyarakat Indonesia yang lantas membuang minyak goreng bekas begitu saja dengan jumlah yang tak bisa dibilang sedikit.

Data Asosiasi Pedagang Kreatif Lapangan Indonesia (APKLI), yang antara lain membawahi ribuan pedagang gorengan atau camilan goreng di tanah air menyebutkan, setiap pedagang dalam seharinya menggunakan antara 3-5 liter minyak goreng.

Beberapa masyarakat yang mengetahui cara memanfaatkan minyak goreng bekas atau biasa disebut jelantah ini kembali mengolah menjadi biodiesel untuk keperluan bahan bakar hingga sabun cuci.

Namun, jelantah berubah menjadi biogasolin atau bensin di tangan tiga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka adalah Abdul Afif Almuflih dan Khoir Eko Pambudi, mahasiswa Kimia, dan Endri Geofani dan Fakultas Pertanian.

Menurut Khoir Eko Pambudi, minyak jelantah dipilih untuk mendorong masyarakat tidak memakai minyak goreng berulangkali yang berdampak buruk pada kesehatan. Selain itu, minyak jelantah juga tersedia melimpah, terutama di kalangan pedagang gorengan, camilan yang sangat populer di Indonesia.

Eko Pambudi menambahkan, kunci proses perubahan ini adalah katalisnya, yang mereka buat dari tanah liat, yang diaktifkan dengan logam kadium. Tanah liat dipilih karena merupakan material yang bisa ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia dan murah.

"Kita memakai katalis yang berasal dari alam, dan itu tinggal menggali tanah saja sudah bisa mendapatkannya. Kita menggunakan limbah juga, dan tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi yaitu minyak jelantah. Dan katalisnya juga kita desain untuk bisa digunakan berulangkali, karena dalam prakteknya saat ini di kebanyakan industri, katalis hanya bisa dipakai sekali," kata Khoir Eko Pambudi kepada VOA, dikutip PR Online (28/3).

Sementara Abdul Afif Almuflih menambahkan proses produksi bensin dimulai dengan memanaskan minyak jelantah. Uap hasil pemanasan akan mengalir melalui pipa yang sudah diisi katalis tadi, dan menetes di bak penampung sebagai bahan bakar baru.

Dalam penelitian yang sudah dilakukan sejak tahun lalu itu, dari satu liter minyak jelantah, akan dihasilkan 420 ml bensin dan 290 ml diesel atau solar.

Afif juga meyakini penggunaan minyak goreng baru akan lebih efisien dalam proses produksi biogasolin ini. Karena itu, Indonesia sebagai penghasil minyak sawit terbesar kedua di dunia, berkesempatan untuk memproduksi bensin berbahan baku minyak sawit dalam skala industri.

"Penelitian ini kami harapkan menjadi langkah awal, yang nantinya minyak kelapa sawit murni itu dapat dijadikan bahan baku dan diproduksi secara massal untuk bahan bakar minyak (BBM). Apalagi Indonesia memiliki potensi kelapa sawit yang sangat berlimpah khususnya di wilayah barat," jelas Abdul Afif Almuflih.

Tak hanya itu saja, penelitian ini bahkan telah memenangkan empat penghargaan dunia berupa medali emas. Masing-masing dari World Invention Intellectual Property Association (WIIPA), medali emas dari Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), perunggu dari Malaysian Technology Expo (MTE) 2016, dan penghargaan khusus dari Toronto International Society of Innovation & Advanced Skills (TISIAS) Kanada.
De