Pejabat Pemkot Pontianak Diberi 2 Opsi: Merokok Atau Dipecat!

Pejabat Pemkot Pontianak Diberi 2 Opsi: Merokok Atau Dipecat!Ilustrasi @tribunnews.com

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, menerapkan aturan yang tergolong sadis kepada kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemkot Pontianak. Mereka diminta berhenti merokok. Sutarmidji pun memberi dua opsi pilihan, tetap merokok atau kehilangan pekerjaannya.

Aturan ini terbilang efektif sebab hingga kini tak ada kepala SKPD di Pemkot Pontianak yang berani merokok.

"Kalau ada kepala SKPD atau camat yang masih merokok, beritahu saya, saya pastikan langsung saya ganti," kata Sutarmidji, dikutip Antara, Kamis (24/3).

Menurut Sutarmidji, aktivitas merokok bisa memengaruhi kinerja terutama efisiensi waktu. Sebagai gambaran, seorang anak buahnya mengaku dalam sehari bisa menghabiskan lebih dari sebungkus rokok.

Jika dihitung secara kasar, perokok menghabiskan 20 batang rokok seharinya. Jika sebatang rokoh habis dalam 6 menit, berarti sebungkus rokok membuang waktu 120 menit alias 2 jam!

"Artinya dua jam itu yang seharusnya dimanfaatkan untuk dia bekerja, tetapi dimanfaatkan untuk merokok," kata Sutarmidji.

Dia juga mengajak para orangtua melindungi anak-anaknya dari bahaya asap rokok, mulai dari lingkungan rumah hingga di tempat umum.

"Di Rumah Sakit Khusus Paru-paru Pontianak, saat ini saja tercatat lebih dari 2.900 orang yang diterapi dikarenakan suspect tuberculosis (TB). 82 persen diantaranya terpapar akibat menghisap asap rokok, baik secara langsung maupun tidak langsung," ujar dia.

Sebab, sebanyak 82 persen pasien tersebut, lebih dari 60 persen diantaranya adalah perokok pasif.

"Anak-anak itu jangan sampai terpapar asap rokok makanya dari sejak dini, mereka sudah harus kita lindungi dari bahaya asap rokok, dan itu harus sesering mungkin dikampanyekan mulai di lingkungan rumah," ucap Sutarmidji.

Lebih lanjut, Sutarmidji tidak akan memasukkan keluarga miskin perokok dalam daftar penerima bantuan cadangan pangan. Dia menilai mereka tergolong masih mampu.

"Masa' untuk membeli rokok sanggup tetapi untuk beli beras tidak, bahkan saya ancam juga kalau masih saja dia merokok, pendidikan anaknya yang selama ini gratis, maka akan kami cabut," kata Sutarmidji.

Nay