MUI Minta Sepatu & Baju Distempel Halal

MUI Minta Sepatu & Baju Distempel HalalIlustrasi @kompas.com

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mewacanakan akan melakukan sertifikasi halal terhadap produk non konsumsi selain makanan. Produk-produk itu diantaranya sepatu, baju, celana, dan pakaian lainnya.

Ketua MUI, Maruf Amin, mengatakan sertifikasi itu dilakukan menyikapi banyak laporan masyarakat mengenai bahan baku produk-produk yang mereka gunakan. Menurutnya, MUI menerima laporan bahan pakaian dari kulit babi.

"Makanya karena berasal dari bahan yang haram, jadi tetap saja tidak boleh dipakai," kata Maruf saat menghadiri sebuah seminar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.

MUI menargetkan hingga tahun 2018 sebanyak 85 persen produk di Indonesia sudah tersertifikasi halal. Sebab, hingga kini masih sangat sedikit produk yang bersertifikasi halal.

"Hanya ada sekitar 15 persen saja," papar Maruf.

Terkait rencana MUI tersebut, pengamat Sosial, Usman Nyoto menilai MUI harus berhati-hati dalam memberikan stempel halal terhadap produk tertentu.

"Karena apa yang dikatakan hadist kalau siapa yang menghalalkan dan mengharamkan atau sebaliknya itu bukan umatku kata Rasulullah SAW, jadi kita harus hati-hati," kata Usman.

"Memang harus ada pembuktian yang halal seperti apa, yang haram seperti apa. Itu harus ada pakar yang memang melakukan studi ilmiah, tidak bisa hanya justifikasi katanya ini babi nanti lemah. Nah itu harus ada dasar kajian yang artinya itu tidak sembarangan lah mengeluarkan ini haram dan ini halal. laboratorium universitas atau lembaga penelitian bisa mengidentifikasi, enggak sulit," beber Usman.

Usman menjelaskan, apabila MUI mengeluarkan fatwa, maka umat muslim harus mengikuti hal tersebut.

"Fatwa beda dengan gagasan ini fatwa setidaknya umat Islam mengikuti fatwa itu sifatnya seperti itu. Fatwa yang dikeluarkan MUI itu mengikat umat Islam dan haram halal referensi baca alquran dan hadits, nah jadi mengikat umat Islam," pungkasnya. Demikian dilansir dari Okezone.

Nay