Menteri Agama Bodoh Gara-gara Twitter

Menteri Agama Bodoh Gara-gara TwitterMenteri Agama Lukman Hakim @tempo.co
Twitter telah memasuki tahun ke-sepuluh pada hari Senin (21/3) kemarin. Mereka pun menggelar sebuah acara perayaan yang menghadirkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Menteri Agama, Lukman Hakim.

Twitter mengundang kedua tokoh tersebut untuk menandakan bahwa Twitter dapat dijadikan alat komunikasi secara realtime. Bahkan dapat digunakan untuk memperluas pengetahuan di dunia internet.

Menteri Lukman Hakim telah membuat akun Twitter @lukmansaifuddin sejak tahun 2009 silam. Saat itu ia merasa jika dirinya tak tahu apa-apa, minder, bahkan bodoh.

Ia mengatakan, "Banyak akun yang punya wawasan yang luar biasa luasnya. Kadang saya tidak habis fikir, kenapa ada orang yang mau blok akun yang lain. Itu terlalu serius. Dan, aneh kalau ada akun (personal) yang pakai admin, itu aneh, tidak ada nikmatnya."

Lukman sendiri juga mengaku telah mendapat pelajaran berharga dari sebuah kicauannya soal Move On beberapa waktu lalu.

"Ternyata, cuitan saya soal move on, tidak sadar bisa ke mana-mana, banyak yang baper (bawa perasaan). Saya dihujat, di-bully. Baru pertama kali saya itu dimusuhi pengguna Twitter, soal move on. Padahal, masalah move on itu menghibur saya, bukan mengejek. Tetapi, saya dinasihati hati-hati men-tweet. Kita yang waras, tweet dengan bahasa santun," ujarnya.

Kisah awal mula pembuatan akun Twitter juga diceritakan oleh Ganjar Pranowo. Ia mengaku jika pembuatan akun Twitter @ganjarpranowo adalah atas bantuan seorang wartawati karena Ganjar sendiri tidak tahu cara membuatnya.

"Saya tidak tahu kapan. Waktu itu akun saya dibuat oleh wartawan, ketika saya masih menjadi anggota DPR RI," kata Ganjar.

Dengan adanya media sosial ini, Ganjar mengatakan jika dirinya maupun pemerintah bisa semakin dekat dengan masyarakat. Tentu hal ini menjadi nilai positif dan menjadi solusi untuk pemerintah mendekat kepada masyarakat.

"Awalnya, saya ingin buat sistem, apa sih yang dikeluhkan dan dibutuhkan oleh masyarakat. Pakai Facebook tapi terbatas, saya disarankan pakai Twitter karena unlimited, bisa banyak (pengikutnya). Kita coba terapkan sistem yang kita inginkan sampaikan kepada publik dan publik merespons melalui akun. Itu berjalan baik," tandasnya.
mks