Unik, Makan di Kantin Gas Methan Bisa Bayar Pakai Sampah

Unik, Makan di Kantin Gas Methan Bisa Bayar Pakai SampahKantin gas methan @sibukbanget.com
Sebuah warung makan di Kawasan Tempat Pembuangan Ankhir (TPA) Jatibarang ini tergolong unik. Pasalnya, para pelanggan yang makan bisa membayarnya pakai sampah.

Warung milik Suyatmi (42) dan Sarimin (54) itu dibuka berkat bantuan pihak pengelola Tempat Pembuangan Ankhir (TPA) Jatibarang untuk para pengepul atau pemulung memburu plastik di area Kota Semarang.

Uniknya, para pelanggan yang akan membeli makanan di kantin tersebut boleh membayarnya dengan sampah plastik.

"Setiap kilonya plastik tersebut ditimbang, dan dihargai di sini perkilonya Rp 400. Jika mereka sekali makan minimal harus membawa 20 kilogram sampah plastik, karena sekali makan mereka menghabiskan uang antara Rp 6000 sampai Rp 8000," kata Suyatmi, dikutip dari merdeka.com.

Suyatmi mengatakan, sampah plastik bisa ditukarkan di warung miliknya hanya jenis sampah plastik bisa didaur ulang seperti gelas plastik dan botol bekas air mineral, tas plastik bekas, dan sejenisnya.

"Jika ada selisih antara hasil timbangan plastik yang mereka bawa ke sini dan harga pembelian makanan, maka sisa atau selisih nilai uangnya secara otomatis dianggap sebagai tabungan mereka (pembeli) di sini," ujar Suyatmi.

Sementara warung makan ini sendiri diakui baru didirikan sejak 1 Januari 2016 kemarin.

"Awalnya, saya jualan makanan di sini sudah selama satu tahun. Makanannya khusus bagi para teman-teman pemulung dan pekerja di Kawasan TPA Jatibarang. Namun, karena para pemulung yang tidak pasti memiliki uang kerap berutang di warung. Dari situ saya mikir, mereka sering utang makan karena sampah yang dikumpulkan belum menghasilkan uang. Akhirnya saya minta mereka bayar pakai plastik saja," kata Sarimin yang asli Rembang, Jawa Tengah.

Meski para pembeli dapat membayar dengan sampah plastik, nyatanya Sarimin mengaku justru lebih banyak mendapat keuntungan.

"Setiap satu kilogram plastik yang dibeli seharga Rp 400 biasanya saya jual kepada pengepul sampah seharga Rp 500. Sehari kami bisa dapat 2 kwintal plastik yang dikumpulkan 20 pemulung. Biasanya kalau sudah saya dapat satu sampai dua ton lalu diangkut. Saya untung dari plastik dan dagangan nasi," ujar bapak dua anak ini.

Tak hanya itu saja, Sarimin dan Suyatmi ternyata juga memanfaatkan gas metana (CH4) atau biogas diproduksi dari sampah-sampah di TPA Jatibarang untuk memasak makanan tersebut.

"Bahan bakar gas dari sampah kami jadikan sebagai pengganti gas elpiji. Bisa kami gunakan secara gratis untuk memasak bahan makanan yang kami jual di warung. Seperti memasak nasi, lauk pauk, gorengan hingga merebus air," ucap Sarimin.

Dalam usahanya ini, Sarimin mengaku dalam sebulan dapat menghasilkan keuntungan rata-rata antara Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta rupiah. "Lumayan lah. Bisa untuk biaya sekolah untuk kedua anak-anak kami," tutup Sarimin.
De