Harga Cabai Melonjak Tajam, Kementan Ogah Tanggung Jawab

Harga Cabai Melonjak Tajam, Kementan Ogah Tanggung JawabIlustrasi @tribunnews.com

Harga bawang merah dan cabai mengalami kenaikan tajam pada pekan kedua Maret ini. Untuk cabai jenis keriting dan merah besar, di beberapa pasar mencapai Rp 60.000/kg, cabai rawit merah Rp 70.000/kg. Sementara untuk bawang merah dijual Rp 45.000/kg.

Hal ini berbeda dari bulan lalu, di mana harga cabai masih di kisaran Rp 26.000/kg di eceran dan Rp 13.000/kg di pasar induk, cabai merah besar dan keriting Rp 43.000/kg di eceran dan Rp 36.000/kg di pasar induk, dan bawang merah Rp 26.000/kg di eceran dan Rp 17.000/kg di pasar induk.

Sayangnya, pemerintah melalui Kementan mengaku kondisi kenaikan harga cabai ini bukan tanggung jawab mereka.

"Kementan pada posisi tanggung jawab peningkatan produksi. Termasuk meningkatkan kapabilitas petani supaya petani punya kelembagaan yang kuat dalam bentuk kelompok tani. Nggak mungkin dong petani sawahnya hanya 0,3 hektar jual langsung ke Jakarta, makanya kita kuatkan di produksi dan kelembagaan," kata Sekretaris Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Yazid Taufik, Minggu (13/3), dilansir dari Detik.

Dia menambahkan, jika sudah di luar produksi, seperti menyangkut mahalnya ongkos logistik bisa menjadi tanggung jawab banyak kementerian.

"Kalau perdagangan yah ada Kementerian Perdagangan. Transportasi angkutannya di Kementerian Perhubungan, jalannya rusak itu tanggung jawabnya Kementerian PUPR. Kayak macet di Brebes sampai saat ini juga bikin bawang mahal kan masalah tata niaga juga itu, masa kita yang benerin. Bukan salah (tata niaga), tapi perlu pembenahan," jelasnya.

Selain arus logistik yang buruk, Yazid juga menyoroti ada campur tangan permainan harga di tingkat pedagang, mulai dari tengkulak, pedagang besar di petani, hingga pedagang eceran.

"Masalah pangan kan yah kan menyangkut banyak orang. Jangan terlalu liberal lah, tetapkan yang wajar, masa Gerhana Matahari saja dijadikan momen naikkan harga. Yang terjadi sekarang bukan suplai kurang, produksi cukup," tutupnya.

Nay