Buka Praktik 38 Tahun, Dokter di Medan Pasang Tarif Seikhlasnya

Buka Praktik 38 Tahun, Dokter di Medan Pasang Tarif SeikhlasnyaBuya Aznan Lelo @liputan6.com

Bagi masyarakat Kota Medan, nama dokter Aznan Lelo sudah banyak dikenal. Sebabnya, dokter yang membuka praktik di rumahnya di Jalan Puri, Kelurahan Kota Matsum, Medan, Sumatera Utara ini tidak pernah memasang tarif. Alhasil, saban hari ratusan pasien antre menunggu diobati sang dokter.

Dokter Aznan yang akrab disapa Buya Aznan ini tidak memasang papan nama di tempat praktiknya. Namun anehnya, justru selalu dipadati pengunjung.

"Saya juga heran kenapa mereka banyak yang datang, padahal tidak ada papan nama. Bagi saya semua pasien tetap harus dilayani," kata Aznan.

Ditanya soal tarif, pria kelahiran n Bukit Tinggi 2 Desember 1951 ini menegaskan tidak memasang tarif khusus sebab profesi dokter baginya adalah membantu orang sakit.

"Tidak pernah saya minta pasien, kalau mereka berobat tidak pernah saya tetapkan tarifnya, tapi kalau mereka memberi ya saya terima. Saya tidak mau terima langsung, istri saja yang membukanya," ucap Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) ini.

Aznan membuka praktik pengobatan sejak 1978, saat itu dia membukan di tempat orangtuanya yang berjarak 2 rumah dari kediamannya saat ini. 5 tahun kemudian, dia berhenti untuk mengambil gelar Ph.D di Australia.

Namun rencananya itu tak berjalan mulus sebab dia dicekal Pemerintah Orba dengan dituding sebagai aktivis Islam ekstremis.

-dokter-medan

"Sempat dicekal, tapi aku terus berjuang dan berusaha. Di sinilah aku berpikir bahwa kalau memang rezeki, pasti tidak lari dan akhirnya aku berangkat. Semua dibiayai pemerintah," ungkap pria yang memulai kuliah jurusan kedokteran sejak 1971 hingga 1978.

Profesi dokter yang digeluti Aznan mendapat dukungan penuh dari sang istri, Rahmayanti Yoesran.

"Buya kegiatannya dari pagi mengajar, kemudian buka praktik sore hari, tapi enggak pernah ngeluh capek atau sakit. Buya selalu mengaku senang dengan apa yang dilakukannya. Saya juga dukung kalau Buya seperti ini," kata Rahmayanti.

Wanita 50 tahun itu juga mengatakan jika sang suami tak pernah menuntut kepada anaknya harus memiliki profesi tertentu.

Alhasil, diberi kebebasan menempuh masa depannya sendiri, anak-anak Buya Aznan pun berhasil. Dua dari 3 anak mereka menjadi seorang dokter. Sedangkan seorang lainnya lulusan sarjana hukum.

"2 Orang ngikut Buya jadi dokter, kalau yang paling besar lulusan sarjana hukum," ujar dia.

Rahmayanti juga mengatakan jika pasien suaminya tidak hanya berasal dari Medan dan sekitarnya, namun juga luar negeri seperti Malaysia dan Belanda.

"Saya tidak ingat tahun berapa, ada pasien datang dari Belanda dan Malaysia datang. Kita juga enggak tahu mereka dapat informasi dari mana. Buya juga kaget, tapi tetap dilayani dan tidak dikenakan tarif, seikhlasnya saja. Buya tidak pernah minta," cerita dia. Demikian dilansir dari Liputan6.

Nay