Gadis Afganistan Dipaksa Tes Keperawanan, Disaksikan Pria

Gadis Afganistan Dipaksa Tes Keperawanan, Disaksikan PriaIlustrasi @rt.com

Para gadis di Afganistan yang dituding melakukan perbuatan amoral seringkali dipaksa menjalani tes keperawanan oleh dokter pemerintahan.

Dari 53 wanita muda yang diwawancarai Komisi Hak Asasi Manusia Independen Afghanistan, 48 diantaranya mengaku menjadi korban praktik ginekologi wajib dari pemerintah.

"Karena tes ginekologi dilakukan tanpa persetujuan dari korbannya, hal ini dapat dikelompokkan dalam kekerasan seksual dan pelanggaran HAM," demikian bunyi kesimpulan laporan Komisi HAM Afghanistan yang dipbulikasikan oleh Human Rights Watch pada Senin (29/2) lalu, dilansir dari Reuters.

Proses itu mencakup daerah kewanitaan dan anal. Kebanyakan proses juga melibatkan pengawas laki-laki dan seringkali disertai unsur kekerasan yang menyebabkan trauma.

Tujuan dari tes ini adalah untuk memastikan apakah seorang wanita aktif melakukan seks di luar pernikahan. Namun, kebenaran dari tes itu diragukan ahli. Laporan ini juga menunjukan jika tes tidak dilakukan dengan metode ilmiah.

Dalam kebudayaan konserfativ, keperawanan seorang gadis sangat dijunjung tinggi. Menurut Komisi HAM setempat, tes keperawanan ini justru merusak harga diri, kesehatan emosi, dan status sosial seorang perempuan.

Dalam beberapa kasus, perempuan yang diketahui tidak perawan sebelum menikah, juga sering menghadapi kekerasan, bahkan hingga dibunuh.

"Tes keperawanan terus menerus yang merendahkan dan tidak ilmiah dari pemerintah Afghanistan merupakan pola luas dari penganiayaan di mana perempuan dan gadis di Afghanistan dipenjara dengan tudingan palsu kejahatan moral," ujar peneliti senior HRW, Heather Barr.

Nay