Warsito Penemu Alat Pembasmi Sel Kanker Tinggalkan Indonesia

Warsito Penemu Alat Pembasmi Sel Kanker Tinggalkan IndonesiaWarsito P Taruno @viva.co.id
Masih ingat dengan Warsito Purwo Taruno? Pria yang berhasil membuat alat penyembuh kanker atau teknologi Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) tersebut memutuskan meninggalkan Indonesia untuk mengembangkan alatnya di Polandia.

Banyak pihak yang menduga keputusan ini akibat dari langkah Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kemenristekdikti, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dan KPKN (Komite Penanggulangan Kanker Nasional) yang mengatakan bahwa alat buatan Warsito ini belum bisa dipastikan aman atau bermanfaat.

Di Facebook pribadinya, Warsito menulis, "Warsawa adalah kota kelahiran Marie Curie, fisikawan, penemu Polon dan Radon, satu-satunya wanita yang meraih Nobel dua kali, pionir radio terapi 100 tahun lebih yang lalu. Sekarang, kami memulai pelatihan ECCT internasional pertama untuk pengobatan kanker dari tempat pertama kali Curie Intitute of Oncology, Warsawa didirikan."

Kendati akan pergi ke negeri orang, namun Warsito membantah akan mengembangkan teknologi tersebut sepenuhnya di luar negeri. Tujuannya ke Polandia menurutnya hanya untuk riset mengenai kanker dan cara penyembuhannya.

"Yang benar itu, mengembangkan layanan terapi kanker komplementer di beberapa negara bekerja sama dengan luar. Kita masih berusaha untuk mengembangkan riset dan teknologi serta produksinya di dalam negeri," tegasnya.

Warsito juga menegaskan bahwa Polandia tidak menjanjikan apa-apa terkait riset yang akan ia lakukan di sana. Bahkan ia mempersilahkan warga Polandia untuk menggunakan alatnya jika memang bisa bermanfaat nantinya.

"Polandia tak menjanjikan apa-apa. Mereka mau pakai hasil riset kita, buat kita kalau bisa menolong ya kita kasih saja," ujarnya.

Di sisi lain, perangkat canggih Warsito ini diklaim pernah mendapat komentar pedas dari salah seorang profesor di Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia (FKUI). Sayangnya ia enggan menyebutkan siapa profesor yang ia maksud.

Ia mengatakan, "Ada seorang Profesor dari FKUI mengatakan bahwa hasil review menyamakan posisi ECCT sekarang disamakan dengan air putih atau sandal jepit, tak terbukti manfaatnya."

"Seperti yang disebutkan oleh professor itu, itu juga sebenarnya yang membuat kita patah semangat untuk melanjutkan riset kita di dalam negeri: apa yang kita kerjakan selama ini sama dengan NOL, ribuan para penderita kanker yang tadinya sudah hopeless bisa mendapatkan harapan kembali tak dianggap sebagai manfaat," tandasnya.

mks