Lesbian dan Gay Bukan Penyakit, Tak Perlu Disembuhkan

Kamis, 11 Februari 2016 09:00
Lesbian dan Gay Bukan Penyakit, Tak Perlu DisembuhkanIlustrasi transgender @ideafixa.comideafixa.com
Sejak 17 Mei 1990, homoseksual tidak lagi dianggap sebuah penyakit maupun gangguan kejiwaan. Hal ini diungkapkan secara resmi oleh Departemen Kesehatan RI telah meratifikasi pernyataan resmi World Health Organization (WHO) dan telah dimasukkan oleh Depkes RI dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) edisi II (1983) dan edisi III (1993).

Dalam pemahaman medis, identitas diri manusia itu ditentukan berdasarkan konstelasi otak atau susunan saraf pada otaknya. Sebab, otak adalah organ pertama yang terbentuk, saat manusia masih menjadi janin.

Menurut dunia dan ilmu kedokteran PPDGJ yang kini sudah memasuki edisi IV, telah menyatakan bahwa lesbian, gay, biseksual, atau transgender, benar-benar bukan lagi hal yang dianggap sebagai penyakit dan tentunya tidak harus disembuhkan.

Dilansir dari laman Merdeka, seorang transgender bernama Karina Samosir menjelaskan bahwa sejak TK kecenderungan sifat dan sikapnya memang sudah mengarah kepada karakteristik perempuan.

"Kalau anak laki-laki kan senangnya main bola, nah pada saat itu insting saya cenderungnya malah ke permainan perempuan seperti masak-masakan, main ibu-ibuan, dan lain sebagainya lah," ujar Karin, demikian dikutip dari merdeka.com.

Aspek di diri setiap manusia yang bisa disetarakan dengan kecenderungan orientasi seksual berdasarkan kinerja sirkuit-sirkuit otak dan konstelasinya, seperti masalah selera terhadap rasa.

Contohnya ada seseorang yang indera pengecapannya lebih menggandrungi rasa pahit daripada rasa asin, manis, atau asam, bukan berarti orang itu mempunyai kelainan berbahaya hanya karena selera rasanya berbeda dari selera rasa orang pada umumnya.

Dalam penelitian ilmu saraf, masing-masing orang yang memiliki selera rasa yang berbeda ini adalah akibat dari perbedaan konstelasi otak dan kinerja sirkuit-sirkuit otak yang berbeda. Begitu juga dengan masalah orientasi seksual.

Seorang pria yang menyukai pria tentunya memiliki konstelasi otak dan kinerja sirkuit-sirkuit otak yang berbeda, dengan pria yang menyukai wanita. Hal ini adalah masalah variasi normal dari otak manusia, yang sama sekali tidak membahayakan manusia lainnya.

Sayangnya banyak masyarakat yang tidak paham sehingga mereka kerap kali membuat stigma miring bahwa kelompok LGBT ini dengan justifikasi menggunakan dalil agama, dan standar moral tertentu yang dianggap paling benar karena diamini mayoritas masyarakat dalam kehidupan sosial.

Sehingga sebagai seorang pria yang memiliki insting orientasi perempuan, Karin harus mengubah hal-hal besar di dalam dirinya lebih dari sekedar penampilan yang mengidentifikasinya sebagai wanita.

Seperti melakukan harus mengubah hal-hal besar di dalam dirinya lebih dari sekedar penampilan yang mengidentifikasinya sebagai wanita. Terapi pertambahan hormon estrogen berupa kapsul ini membuatnya merasakan sejumlah hal, yang pelan-pelan mengubah mood dan fisiknya seperti seorang wanita.

"Obatnya dijual bebas kok, ada di apotik biasa. Namanya Cyclo Progynova. Itu untuk menambah hormon estrogen di dalam diri saya," ujar Karin.

Sementara untuk terapi hormon secara suntik, Karin mengaku bahwa hal itu harus dijalani juga olehnya seminggu sekali. Sehingga Karin dapat mengalami perubahan fisik seperti kulit yang menjadi lebih halus, pinggang dan bokong lebih membentuk, serta payudara yang juga mulai tumbuh.

Dalam melakukan terapi dan suntik hormon ini, Karin mengaku harus mempersiapkan budget khusus. "Budget saya itu sekitar Rp 400 ribu dalam sebulan, khusus untuk menjalani terapi hormon saja,"

Tak hanya itu, kini Karin tengah mempersiapkan perubahan yang lebih besar yang mempuatnya mampu menjadi transgender sempurna dengan melakukan operasi kelamin.

"Saya akan coba perjuangan semuanya untuk diri saya, jadi sekalian dicari lah penyempurnaannya, biar lengkap," ujarnya.
(De)
Komentar