Bias Gender, Pesantren Jogja Susun Kitab Fikih Khusus Waria

Bias Gender, Pesantren Jogja Susun Kitab Fikih Khusus WariaSantri di Pesantren Waria Jogja @kaskus.co.id

Pesantren al-Fatah yang berada di Notoyudan, Pringgokusuman, Gedongtengen, Yogyakarta, memang berbeda dari pondok kebanyakan. Di tempat ini, mayoritas santrinya berasal dari kalangan LGBT alias waria.

Ketua Pondok Pesantren (Ponpes) Waria al-Fatah, Shinta Ratri mengatakan, di tempat ini diadakan kajian tentang agama Islam.

"Selanjutnya kelompok doa bersama ini mengadakan pengajian rutin," terang Shinta.

Shinta sendiri sadar jika kitab-kitab fikih yang mereka pelajar tidak mengakomodasi keberadaan waria. Dia kemudian mengambil contoh kitab Al-Hikam yang dirasa tidak membedakan gender.

"Jadi kami mengkaji kitab Fikih yang tidak membedakan gender, misalnya kitab al-Hikam," kata Shinta, Selasa (2/2).

shinta-pesantren-waria

Padahal, kitab Al-Hikam bukanlah kitab fikih, melainkan kitab tasawuf yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Athailah As Sakandari.

Untuk itu, sebagai satu-satunya pesantren waria, pihaknya akan menyusun kitab Fikih yang nantinya akan mereka namai kitab fikih waria.

"Semoga kitab fiqh waria itu bisa dipakai oleh waria muslim di seluruh dunia," jelas Shinta.

Shinta mengatakan, pihaknya akan meminta pertimbangan dari sejumlah ulama sepuh di Jawa.

"Nanti ada sepuluh ulama yang akan kami mintai pendapat," terangnya.

Nay