Warga di Jambi Terserang Virus Zika

Warga di Jambi Terserang Virus ZikaNyamuk Aedes Aegypti penyebar virus Zika @techtimes.com
Pada tahun 2015 lalu, virus Zika yang tersebar melalui nyamuk Aedes Aegypti dipastikan telah menyebar di Indonesia. Virus yang menyebabkan gejala mirip demam berdarah ini kini semakin meluas di beberapa wilayah, terutama di tempat yang langganan demam berdarah.

"Awalnya ada wabah dengue (demam berdarah) di Jambi pada Desember 2014-April 2015. Kami diminta memeriksa 103 sampel darah pasien yang diduga kena dengue itu," ujar Deputi Eijkman, lembaga yang menemukan virus Zika di Indonesia pertama kali, Herawati Sudoyo.

"Ada satu sampel yang setelah diteliti tak ada indikasi dengue. Setelah dikaji lebih jauh, ditemukan virus Zika dalam sampel pasien itu," lanjutnya.

Frilasita Yudhaputri, Peneliti Emerging Virus Research Unit Lembaga Eijkman mengatakan jika riwayat perjalanan pasien tak pernah pergi ke luar negeri. Namun karena pasien dianggap terkena dengue, maka virus Zika masih belum terdeteksi saat itu.

Frilasita mengatakan, "Begitu ada temuan, kami melaporkannya ke Kementerian Kesehatan melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada September 2015. Kami juga publikasikan temuan itu di jurnal internasional."

Temuan ini menjadi sangat mengkhawatirkan karena penyebaran virus Zika tergolong sangat cepat. Penderita akan mengalami panas, sakit persendian, sedikit ruam-ruam, serta radang di selaput mata jika terinfeksi virus ini. "Penyakit ini langsung hilang, tak perlu diobati," ujar Herawati.

Yang lebih mengkhawatirkan, penelitian di Brasil mengungkapkan bahwa ibu hamil yang terinfeksi virus ini akan melahirkan bayi yang mengalami kelainan otak dengan ukuran kepala lebih kecil dari ukuran normal (mikrosefalus).

Untungnya "Virus Zika yang dapat diisolasi dari pasien lelaki berusia 27 tahun di Jambi punya strain sama dengan yang ditemukan di negara lain di Asia, seperti Thailand. Virus Zika di Brasil yang diduga memicu kelainan perkembangan janin memiliki strain berbeda dengan di Asia," seperti yang dikatakan Frilasita.

Kendati demikian Herawati menyarankan agar segera dilakukan survei dan pemeriksaan lebih intensif agar daerah penyebaran virus ini terdeteksi. Jalan terbaik menurutnya adalah dengan memutus siklus vektornya, yakni nyamuk Aedes aegypti yang juga menyebarkan DBD. Sayangnya, DBD sendiri sejauh ini masih belum bisa diatasi.

Pada kesempatan yang lain, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Oscar Primadi telah meminta warga untuk tidak panik dengan virus Zika. Karena, penularan virus ini amat mirip dengan DBD yang bisa dihadapi dengan cara pemberantasan nyamuk.

Warga juga diimbau agar tetap waspada dengan penyebaran jentik nyamuk Aedes Aegypti serta memberantas sarang nyamuk yang mereka ketahui. Hal inilah yang mampu membasmi penularan DBD serta virus Zika.

Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan jika virus Zika menyebar cepat serta bisa menginfeksi sampai 4 juta orang di Benua Amerika. Untuk itulah mereka mengingatkan Asia agar berhati-hati dengan penyebaran yang sangat cepat ini.

Salah satu negara Asia yang sudah terjangkit virus Zika adalah Thailand. Awal tahun 2016 ini sudah ada satu kasus Zika. Namun penyebaran di Thailand dikategorikan lamban karena wilayah Thailand termasuk lebih kecil dibanding dengan wilayah lain yang terkena serangan virus Zika ini.

Dilansir Reuters, Direktur Jenderal Pengawasan Penyakit Thailand, Amnuay Gajeena mengatakan, "Thailand adalah negara ukuran sedang dengan sistem kesehatan masyarakat yang baik dan fasilitas medis mudah diakses."

Thailand sendiri dilaporkan sudah mendeteksi virus Zika sejak tahun 2012 lalu dan dalam setahun terdeteksi sekitar 5 kasus sampai tahun 2015 lalu. Namun, angka ini diperkirakan akan semakin bertambah dari tahun ke tahun karena memang virus Zika mudah sekali menular.

mks