BBM Langka, Dokter Cantik di Kalimantan Surati Jokowi

BBM Langka, Dokter Cantik di Kalimantan Surati JokowiIndah Puspitasari (kanan) @facebook.com
Sejak tanggal 5 Januari kemarin pemerintah resmi menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun demikian tidak semua warga menikmatinya, seperti warga Bontang, Kaltim yang kesal dengan langkanya BBM di sejumlah SPBU.

Salah satu yang menyesalkan kelangkaan BBM di Bontang ini adalah dokter cantik, Indah Puspitasari. Ia bahkan sampai menulis surat terbuka di Facebook pribadinya yang ditujukan kepada Presiden Jokowi.

Postingan yang dibuat oleh alumni Universitas Brawijaya, Malang tersebut diunggah pada Rabu (6/1) lalu dan disematkan pula foto antrean yang sangat panjang karena BBM langka.



Di awal suratnya Indah mengucapkan selamat kepada Presiden Jokowi yang belum lama ini menggelar syukuran 7 bulanan atau mitoni menantunya, Selvi Ananda. Menurut Indah kelangkaan BBM ini sudah terjadi selama tiga hari sehingga sangat menyusahkannya.

"Kalimantan Timur, salah satu provinsi yang katanya 'terkaya' dan 'penyumbang devisa' terbesar, ternyata mengalami kesulitan yang menurut saya mendasar sekali," ujar Indah di Facebook.

Tidak kurang dari 3,8 ribuan netizen memberikan tanda suka pada surat terbuka tersebut. Bahkan ribuah pula unggahan itu dibagikan ke berbagai media sosial. Berikut ini surat terbuka tersebut secara lengkap dikutip dari laman Facebook Indah Puspitasari.

Surat Terbuka:
YSH Bapak Presiden Joko Widodo

Sebelumnya saya ucapkan selamat atas syukuran 7 bulanan anak Bapak.
Doa tulus saya Semoga semuanya sehat hingga lahiran nanti..

Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri saya. Nama saya Indah Puspitasari, saya seorang dokter umum sekaligus Ibu dari 2 anak jagoan. Saya bekerja di salah satu RS swasta di Kota Bontang. Salam kenal, Pak.

Bapak Jokowi,
Sebagai Presiden yang dekat dengan rakyat, saya mau Bapak tahu apa yang kami alami di daerah dan mungkin juga di daerah lain di Indonesia.

Sudah sejak 3 hari ini kota Bontang selalu kekurangan BBM. Baik itu premium yang katanya untuk rakyat kurang mampu,maupun jenis BBM lainnya spt Pertalite dan Pertamax. Akibat keadaan ini, SPBU yang berjumlah 5 lokasi, selalu terjadi antrian panjang. Bukan itu saja, seringnya malah stok BBM habis dengan alasan kuota.

Saya bukannya rakyat yang senang berdiri di atas penderitaan orang lain. Saya masih tahu diri dengan mengisi BBM kendaraan saya dengan pertalite ataupun pertamax. Namun kedua jenis BBM yang harganya lumayan mahal tersebut juga sering sulit kami dapatkan.

Kondisi ini membuat para pengguna Pertalite ataupun Pertamax beralih menggunakan Premium. Hal ini memperparah kondisi antrian Premium dan membuat Program Premium yang katanya hanya untuk masyarakat kurang mampu tidak berjalan. Dan ini bukan kesalahan rakyat, Pak.

Asal Bapak tahu, di Kota Bontang tidak banyak pilihan kendaraan umum, Pak. Mungkin di daerah seperti Pulau Jawa-Bali, ada Bussway, commuter, becak, delman, ojek, taxi, angkot, dan bus kota gampang ditemukan. Namun tidak dengan kota kami, Khas kota kecil. Sehingga satu-satunya kendaraan pilihan kami ya hanya kendaraan pribadi.

Kami cukup tahu diri,Pak. Dengan berusaha tidak menghambur-hamburkan BBM di mobil kami. Kami biasakan berangkat kerja dan mengantar anak sekolah (keduanya sekolah di SD yang sama) dengan 1 kendaraan. Hal ini kami lakukan demi mendukung program Pemerintah dan semoga juga dilakukan orang lain.

Tapi tindakan ini bikin saya hopeless karena tetap saja kota Bontang sering susah BBM. Seperti saat saya tulis surat terbuka ini,saya dengan sangat terpaksa meninggalkan jam kerja dan mengantre di satu-satunya SPBU yang masih menyediakan Pertamax sedangkan BBM jenis lain sudah ludes sejak semalam. Apalagi SPBU lain yang juga sudah tutup sejak kemarin dengan alasan kuota.

Huuuffhh... Kalimantan Timur, salah satu provinsi yang katanya 'terkaya' dan 'penyumbang devisa terbesar' ternyata mengalami kesulitan yang menurut saya mendasar sekali.

Mungkin di pulau Jawa-Bali, tidak pernah mengalami kelangkaan BBM ataupun mati listrik. Tetapi di sini maupun di Bagian Indonesia lain mati lampu adalah kawan sehari-hari. Hal ini menggelitik ingatan saya terhadap perkataan salah satu kawan saya "Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke. Tapi, Indonesia Raya hanya ada di Jawa-Bali "

Apakah jargon ini benar, Pak?
Maka kalau ini tidak benar, bantulah hidup kami menjadi lebih tenang dan nyaman tinggal di luar pulau Jawa-Bali. Bukan dengan BLT ataupun sumbangan tetek bengek. Melainkan dengan melancarkan stok BBM dan listrik sehingga kami merasakan kenyamanan yang sama yang dirasakan masyarakat yang tinggal di Jawa-Bali.

Demikian Surat ini saya sampaikan, Pak. Mohon maaf apabila dalam penyampaian saya ada yang kurang berkenan. Semata-mata karena saya, maupun masyarakat lain juga sama-sama rakyat Indonesia. Punya hak dan kewajiban yang sama dengan rakyat di Jawa-Bali.

Persoalan BBM sulit di kota Bontang, baik Pertamax, Premium dan Solar, memang bukan hal baru. Warga setempat mengatakan jika kelangkaan itu sama sekali tidak ada pengaruhnya baik BBM naik maupun turun.

"SPBU tutup, itu pasti stok kosong dan alasan di SPBU sedang dalam pengiriman. Jadi, wajar saja postingan Bu Indah itu buat Pak Jokowi," ujar salah seorang warga Bontang, Jamaludin.
mks