2 Warga Solo Jadi Korban Salah Tangkap Densus 88 Dikira Teroris

2 Warga Solo Jadi Korban Salah Tangkap Densus 88 Dikira TerorisNur saat konferensi pers terkait penangkapan dirinya oleh Densus 88 @detik.com

Dua warga Solo, Jawa Tengah menjadi korban salah tangkap yang dilakukan Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri. Kedua warga bernama Ayum Penggalih dan Nur Syawaludin akhirnya dilepaskan usai menjalani pemeriksaan di Mapolsek Laweyan.

Sebelumnya Ayum dan Nur ditangkap karena diduga memiliki hubungan dengan Hamzah dan AND, dua terduga teroris lainnya yang sebelumnya telah dibekuk tim Densus 88. Belakangan mereka tidak terbukti memiliki hubungan dengan kedua tersangka teroris itu.

Diakuinya, selama ditangkap, Ayum dan Nur mengalami siksaan termasuk saat berada di dalam kendaraan yang membawanya ke Mapolsek Laweyan. Lebih parah lagi, mereka tidak diizinkan untuk menunaikan salat.

Nur yang memberikan keterangan di konferensi pers yang digelar di Islamic Studies and Action Center (ISAC) di Solo, Jawa Tengah mengatakan, saat kejadian dia datang ke show room motor milik Galih yang ada di RT 01/08 Panularan, Laweyan, Solo, Jawa Tengah sekira pukul 11.20 WIB.

Keperluannya di show room itu murni terkait bisnis jual beli sepeda motor.

"Saat tengah bisnis motor, 15 menit kemudian datang lima unit mobil. Lima berwarna hitam dan satu berwarna putih. Semuanya Innova," terang Nur, dilansir dari Okezone, Rabu (30/12).

Semula Nur tidak menanggapi penumpang mobil itu yang masuk ke dalam gang. Kemudian saat keduanya keluar dari show room hendak ke masjid, lima mobil yang menunggunya tak jauh dari lokasi langsung berputar dan menabrak motornya.

"Saya langsung dibekuk dan ditodong. Saya tanya, salah saya apa dan kalian siapa. Terus mereka mengeluarkan pistol dan mengatakan Densus 88," terangnya.

Sewaktu di dalam mobil, kepala Nur dan rekannya Galih ditutup. Keduanya diberondong pertanyaan apakan kenal dengan Hamzah.

Galih sempat mencoba untuk kabur namun usahanya sia-sia. Dia kembali ditangkap dan kedua tangannya diikat lalu dimasukkan ke dalam mobil lagi.

"Kami dimasukkan ke dalam mobil terpisah. Di dalam mobil saya ditanya sejumlah nama yakni Nur dan Hamzah. Saya tidak kenal kedua orang itu. Tapi mereka terus menginjak kepala saya ke lantai mobil," terang Galih.

Setibanya di Mapolsek Laweyan, penyidik masih mencercanya dengan pertanyaan yang sama apakah mereka mengenal Hamzah.

Di sana mereka ditahan selama 2 jam, sebelum akhirnya dilepaskan pukul 14.00 WIB.

Sementara itu, kuasa hukum dari The Islamic State and Acin Center (ISAC), Kurniawan mengatakan pihaknya akan melayangkan surat tuntutan terkait penangkapan kliennya itu. Pasalnya, mereka mengalami kekerasan meski tidak melakukan kesalahan yang dimaksud.

"Kami akan melayangkan surat tuntutan terkait penangkapan dari Densus yang diluar koridor hukum," tandasnya.

Nay