Gambia Ganti Jadi Negara Islam Tapi Izinkan Perayaan Natal

Gambia Ganti Jadi Negara Islam Tapi Izinkan Perayaan NatalPresiden Gambia, Yahya Jammeh @cnn.com

Presiden Gambia, Yahya Jammeh, mengumumkan negaranya yang semula sekuler kini menjadi negara Islam. Hal itu diputuskan karena Islam menjadi mayoritas agama rakyat Gambia. Selanjutnya, pemerintah Gambia akan bergabung dalam barisan Republik Islam lain seperti Iran dan Afghanistan.

"Takdir Gambia adalah di tangan Allah SWT. Seperti hari ini, Gambia adalah negara Islam. Kami akan menjadi negara Islam yang akan menghormati hak-hak warga negara," kata Presiden Jammeh.

Jammeh menjelaskan, saat ini Gambia tidak bisa meneruskan sistem sekuler warisan rezim kolonial yang banyak ditinggalkan di negara-negara Afrika Barat.

"Sejalan dengan identitas agama negara ini dan nilai-nilai, saya menyatakan Gambia sebagai negara Islam," kata Jammeh di stasiun televisi negara Jumat kemarin.

"Sebagaimana Muslim mayoritas di negeri ini, Gambia tidak mampu untuk melanjutkan warisan kolonial," katanya lagi, seperti dikutip Reuters.

Dari jumlah populasi mencapai 1,85 juta, 95 persen warga diantaranya beragama Islam. Sementara itu, warga dari komunitas beragama lain masih bisa beradaptasi.

Dalam rekaman pidato di televisi, Presiden Jammeh menjamin warga Kristen dan agama lain bisa beribadah dengan bebas. "(Warga) Kristen akan diberikan kehormatan. Cara merayakan Natal akan terus berlanjut," katanya.

Dia juga memperingatkan warganya yang beragama Islam untuk tidak memaksakan aturan berpakaian terhadap perempuan meski negaranya sudah berubah jadi negara Islam.

"Saya belum menunjuk seseorang sebagai seorang polisi Islam. Cara berpakaian wanita bukan bisnis Anda," katanya.

Gambia merupakan negara bekas koloni Inggris dan terkenal dengan pantai berpasir putih. Dari total jumlah penduduk, mayoritas beragama Islam, disusul Kristen dan kepercayaan setempat.

Nay