Kakek Tangguh Tiap Hari Kayuh Sepeda 10 Km untuk Jual Sabun

Kakek Tangguh Tiap Hari Kayuh Sepeda 10 Km untuk Jual SabunMbah Atmo Tohari @kaskus.co.id
Daripada menjadi seorang pengemis, seorang kakek bernama Atmo Tohari merasa jika bekerja keras adalah hal yang lebih baik. Meski tubuhnya tak muda lagi, namun warga Jalan Telaga Warna, Rejowinangun Utara, Magelang ini rela mengayuh sepeda puluhan kilometer untuk berjualan sabun.

Mbah Atmo yang mengaku sudah berusia 104 tahun dengan kondisi bungkuk ini masih mampu dan tetap semangat untuk mencari nafkah keluarga.

Menjadi seorang pengayuh sepeda membuatnya menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan. Selain sabun, barang dagangan mbah Atmo ini adalah tisu, pampers, shampo, serta kebutuhan hidup lainnya.

Dalam sehari, tak kurang dari jarak 10 kilometer yang ia tempuh untuk menjajakan barang dagangannya ini. Kendati demikian, mbah Atmo tetap bangga karena berjualan sabun ini menurutnya adalah pekerjaan yang bisa menyambung hidupnya daripada meminta belas kasihan kepada orang dengan cara mengemis.

"Kalau saya tidak jualan dengan sepeda malah badan sakit semua, kaki bengkak-bengkak. Saya anggap olahraga dan berkegiatan," ujar mbah Atmo.

Secara rinci mbah Atmo juga membeberkan jadwal kegiatan berjualan yang dilakukannya. Ia mengaku libur untuk hari Senin dan Jumat untuk kulakan barang yang akan ia jual di hari berikutnya.

Selasa ia berjualan di daerah Bakorwil Kedu, Surakarta hingga ke Pakelan, Kecamatan Mertoyudan, Magelang. Rabu ia berjualan di wilayah Jurangombo, Karet, Giriloyo, Perumahan Lembah Hijau, Akmil, serta perumahan Pancawarga.

Kamis, Mbah Atmo berkeliling Seneng, Pakelan, Armada di kecamatan Mertoyudan hingga Menowo kota Magelang. Sementara Sabtu mbah Atmo mengayuh sepedanya hingga Bumi Prayudan dan Minggu berjualan di Rindam dan Potrobangsa, Kota Magelang.

Ia mengatakan, "Hampir setiap hari saya menempuh jarak lebih dari 10 kilometer. Saya berangkat pukul 05.30 pulang pukul 16.00. Kalau menata barang malam harinya."

Kakek yang mengaku mempunyai empat istri ini mengatakan jika ia sudah melakukan jualan keliling sejak tahun 1994 silam. Kala itu ia memikul barang, tidak mengunakan sepeda.

Ketelatenan kakek ini membuat banyak pembeli merasa iba. Bahkan banyak pembeli yang memberi uang lebih kepada mbah Atmo, tak jarang juga seorang dermawan yang ingin memberinya uang, namun mbah Atmo menolaknya jika ia tidak mengambil barangnya sekalipun sedikit.

Anak mbah Atmo dari istri keempat, Samsudin (35) juga membenarkan jika ayahnya itu kerap menolak pemberian orang jika mereka tidak membeli barangnnya. Ia bersama saudara lainnya kerap pula menyusuh ayahnya untuk berhenti, hanya saja mbah Atmo selalu menolaknya.

"Tak jarang karena bapak tidak mau diberi uang cuma-cuma, banyak tetangga atau orang yang berbohong kalau punya hutang dengan bapak. Padahal, niat mereka mengasih bapak. Malahan, waktu saya itu menyuruh bapak berhenti berjualan dan biar saya gantikan, bapak tidak mau. Dia malah mau memberi modal saya untuk berjualan sendiri dan mencari pelanggan sendiri," ujarnya.

mks