Usia Tepat Anak Menerima Pendidikan Seks

Sabtu, 28 November 2015 16:50
Usia Tepat Anak Menerima Pendidikan SeksIlustrasi ibu dan anak @alodokter.com
Kebanyakan orang tua terutama ibu merasa tabu jika harus membahas masalah seks terutama pendidikan seks pada sang buah hati. Dan tak jarang karena hal ini mereka akhirnya telah terlambat dalam memberikan pendidikan seks pada anak.

Padahal, seorang anak pada usia tiga tahun adalah dimana usia yang paling tepat untuk menerima pendidikan seks dari orang tua.

"Mengajarkan edukasi seks pada anak, usia yang tepat mulai dari tiga tahun. Orang baru mengajarkan saat akil balig, itu sudah telat," ujar psikolog seksual, Zoya Amirin M Psi, saat ditemui di sela acara Durex#CondomEmoji di Hotel Ritz Carlton, Jakarta Pusat

Dia menjelaskan bahwa anak usia tiga tahun sudah bisa memahami perbedaan gender. Buktinya, anak usia tiga tahun sudah main masak-masakan, sudah memiliki teman khayalan, yang bisa jadi itu lawan jenis.

Meski belum mengenal kata-kata seksual, mereka sudah paham akan sentuhan, bau dari ibu atau ayahnya. Edukasi seks paling sederhana untuk anak usia tiga hingga lima tahun adalah dengan mandi bersama ibu atau ayahnya.

Saat mandi bersama, jelaskan pada anak, kalau sudah dewasa, anak perempuan akan seperti ibu, dengan payudara dan bagian intim seperti ibu mereka.

"Sedangkan untuk anak laki-laki, ayah bisa menjelaskan, bahwa saat pria sudah dewasa, anak laki-laki juga akan memiliki jakun dan bentuk kelamin seperti ayah," jelas Zoya.

Untuk anak usia sekolah antara enam hingga tujuh tahun, pendidikan seks sederhana yang sesuai adalah dengan bagaimana cara memperlakukan temannya dengan baik. Misalkan, bagian tubuh mana yang anak merasa tidak nyaman atau nyaman saat disentuh.

Bagi yang sudah terlambat memberikan pendidikan seks, misal anak sudah duduk di bangku SMP, sudah mengalami menstruasi atau mimpi basah, cara melakukan pendidikan seks yang sederhana adalah dengan bertanya pada anak, apakah mereka berpikiran untuk pacaran.

Ceritakan pada anak tentang ketakutan-ketakutan orangtua, namun jangan jadikan hal tersebut untuk menakut-nakuti anak. Lakukan hal ini sebagai landasan ekspresi, orangtua menyampaikan supaya bisa bernegosiasi dengan anak.

Biarkan anak bercerita tentang cita-cita dan pacar yang diinginkan seperti apa. Orangtua juga sah saja untuk memberi pendapatnya, seperti apa pasangan yang diinginkan untuk anaknya, dan apa alasannya.
"Kalau kita atur, nanti anak akan lari ke temannya," jelas Zoya.
(De)
Komentar