Tak Selamanya Poligami itu Indah, Ujungnya KDRT

Tak Selamanya Poligami itu Indah, Ujungnya KDRTIlustrasi @theguardian.com

Tak selamanya punya istri lebih dari satu membawa kebahagiaan. Hal ini dialami oleh keluarga AY. Warga Ciledug, Kota Tangerang, itu mendapat musibah tatkala hubungan kedua istrinya tidak harmonis.

AY dan istri tuanya, SN dilaporkan istri mudanya, SR (25) ke Polsek Pondok Aren. Dalam laporannya, SR mengaku menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.

Peristiwa itu bermula ketika SR dipanggil SN untuk datang ke rumahnya di Kelurahan Pondok Kacang Barat, Kecamatan Pondok Aren. Pertemuan itu untuk membahas rencana AY yang akan menikah lagi dengan perempuan 18 tahun.

"Namun, saat baru sampai di depan pintu, saya langsung dilempar toples oleh anak perempuan dari istri tuanya hingga mengenai kepala," kata SR di dampingi pengacaranya, Sulaiman.

Tak puas dengan perlakuan anaknya, SN kembali menyerang SR. "Belum hilang kaget saya, tiba-tiba istrinya langsung menerkam dan mencakar saya," ceritanya.

Bukannya melerai, AY justru ikut mengeroyok SR. "Saya sangat kecewa. Padahal saat itu saya sedang menggendong anak saya yang masih kecil," lanjutnya.

Akibat perbuatan itu, SR menderita luka cakar di bagian leher, dada, pipi kanan, kiri dan tangan kanan.

SR mengatakan suaminya, AY adalah direktur dan komisaris di salah satu agen pemberangkatan haji di Tangerang Selatan (Tangsel). Sebelumnya dia hanya sopir taksi. Dari hasil pernikahannya, AY dan SR mendapat momongan yang kini masih berusia 7 bulan.

Sebelum dinikahi AY, SR adalah janda dengan satu anak berusia 4 tahun. "Saat ini, saya mau melanjutkan perkara terlebih dahulu. Baru nanti akan melanjutkan ke KUA untuk bercerai," katanya. Demikian dilansir dari Merdeka.

Nay