Kontroversi Valentine

Jum'at, 31 Desember 2010

Perayaan Hari Valentine atau hari Kasih Sayang menimbulkan kontroversi di berbagai negara termasuk Indonesia. Ada pihak yang mendukung tentang hari perayaan yang jatuh pada 14 Februari ini. Namun ada yang menentang karena hal ini sebagai bagian kebudayaan Barat, yang sama sekali tak sesuai dengan adat ketimuran.

Dalam Agama Islam, juga menentang hal ini, menyebut Valentine tidak pantas dirayakan umat Islam, karena latar belakang valentine sendiri berdekatan dengan kebudayaan Kristiani. Dan perayaan Hari Valentine sebagai bid’ah, karena tidak ada dasar hukumnya dalam syariat Islam.

Sebagian kalangan Kristiani sebagian tidak sepakat dengan perayaan Valentine. Mereka menilai perayaan itu bukanlah ritus keagamaan, tapi aktivitas tradisi yang merujuk penyembahan berhala sebelum zaman Kristen. Yang jadi rujukan mereka adalah tradisi Pra-Kristen di Romawi yang memuja dua berhala: Nimrod dan Lupercalia.

“Peringatan apa pun, yang terbaik adalah menangkap esensi atau pesan dari peringatan itu sendiri. Kita agaknya lebih suka melihat sesuatu dari aspek seremonialnya tanpa menangkap esensi yang ada. Kalau itu dilakukan, sudah pasti ada perbenturan budaya yang melahirkan kontroversi yang sama sekali tak bermanfaat. Itu juga berlaku untuk Valentine,” ujar Drs H Mohammad Adnan MA.

Ada dan tidaknya kontroversi, kenyataannya banyak yang sangat yakin untuk merayakannya. Bahkan, ada pula yang menganggapnya “wajib” dirayakan. “Apa salahnya merayakan kalau itu dapat lebih mengikatkan perasaan dengan pasangan kita,” cetus Venny, gadis berusia 22 tahun.

Dia sendiri tak secara khusus membikin acara dengan pacarnya untuk perayaan Valentine tahun ini. “Paling pergi berdua. Tapi yang pasti, kami akan saling memberi kado. Sudah jadi tradisi kami, sih,” ujarnya kenes.

Dengan alasan itu pula, gadis manis itu tak memedulikan anggapan yang menyebut dirinya hanya “ikutan-ikutan” cara anak muda Barat. “Biar saja dianggap begitu”.(suaramerdeka)

Komentar