Pengusaha Licik, Naikkan Harga Obat HIV Sampai 5.000 Kali Lipat

Pengusaha Licik, Naikkan Harga Obat HIV Sampai 5.000 Kali LipatMartin Shkreli @metro.co.uk

Martin Shkreli menjadi pengusaha yang paling dibenci di Amerika Serikat saat ini. Pasalnya, dia mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan menaikkan harga obat yang bisa mengatasi virus HIV dengan harga mencengangkan.

Tak tangung-tanggung, Martin menaikkan obat penyembut HIV dan kanker itu hingga 5.000 persen dalam semalam. Yakni dari Rp 197 per butir, jadi Rp 10,9 juta tiap tabletnya.

Memang, soal urusan harga Martin tidak menyalahi aturan. Pemilik Turing Pharmacy yang membeli hak edar obat berlabel Daraprim itu beralasan butuh pemasukan besar untuk modal mengembangkan laboratorium dan melakukan riset lanjutan.

Saat diwawancarai baru-baru ini, Martin ngotot menaikkan harga jual obat Daraprim sebab laba nantinya dialokasikan untuk mengembangkan obat HIV yang lebih ampuh. Selain itu, dia juga tak menampik ingin memperoleh keuntungan besar.

"Penaikkan harga ini bukan kelakuan pabrik obat yang tamak, kami hanya ingin tetap bisa bertahan di bisnis ini," ujarnya.

Kontan saja ulah Martin menaikkan harga obat seenaknya itu mendapat reaksi keras dari masyarakat, khususnya pasien yang membutuhkan obat Daraprim. Bahkan, capres Amerika Hillary Clinton, ikut mengecam kelakuan Turing Pharmacy.

Pun demikian dengan lembaga swadaya Koalisi Masyarakat Berpenyakit Menular AS (IDSA) yang menyebut kenaikkan harga Daraprim bisa memicu kerentanan sistem jaminan kesehatan di AS.

"Harga yang baru ini tidak adil bagi pasien dari kelompok ekonomi lemah," ujar ISDA dalam keterangan persnya.

Menanggapi kecaman yang ditujukan pada dirinya, Martin sedikit melunak. Dia berjanji akan menurunkan harganya sedikit.

"Perusahaan kami tetap harus meraup untung, walaupun mungkin sekarang tidak setinggi kemarin," kata Shkreli.

Nay