Saritem, Lokalisasi di Bandung yang Sulit Ditutup

Saritem, Lokalisasi di Bandung yang Sulit DitutupIlustrasi
Lokalisasi Saritem sudah menjadi ciri khas dari Kota Bandung. Lokalisasi ini terletak di pusat kota yang dihimpit yang dihimpit tiga Jalan besar yakni Jalan Gardujati, Jalan Sudirman dan Jalan Kebonjati.

Para wanita penjaja seks berjejer memperlihatkan kemolekan tubu mereka di sela-sela gang. Sejarah Saritem disebut-sebut berasal dari nama seorang wanita Nyi Sari, wanita berkulit hitam manis yang hidup di jaman Jepang. Saritem mulai berkembang pada awal tahun 1906 dan ramai lagi saat zaman pendudukan Jepang. Para pekerja seks di sana melayani para serdadu Jepang.

Dikutip dari Merdeka.com, Pemkot Kota Bandung sudah lama ingin menutup lokalisasi ini, namun tidak berhasil. Berdasarkan Perda Kota Bandung No 11/1995, efektif mulai November 2006 semua kompleks lokalisasi akan mulai dihapuskan. Semua kegiatan lokalisasi Saritem akan diakhiri pada 17 April 2007 pukul 24.00 WIB dan ditutup pada 18 April 2007. Faktanya, Saritem masih beroperasi hingga hari ini.

Para penjaja seks di Saritem menawarkan jasa kencan mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu.

"Ada yang Rp 150 ribu, Rp 200 ribu, bahkan Rp 500 ribu. Kalau yang Rp 500 ribu mah dijamin muda dan seger kang. Juga artis (kaya artis)," kata Budi (32), salah satu calo PSK kepada Merdeka.com.

Budi mengaku tidak takut jika Saritem akan ditutup. "Aman kang. Moal aya nu ngagerebeg (tidak ada yang berani gerebek)," terangnya.

Salah satu pekerja seks mengaku sulit meninggalkan profesi ini. Selain tidak memiliki keahlian, penghasilan yang cukup besar membuat mereka enggan beralih profesi. Dewi, wanita berusia 27 tahun ini mengaku memasang tarif Rp 300 ribu untuk sekali kencan. Namun, dirinya harus setor setengah kepada germo, semalam dirinya bisa melayani 3 hingga 5 pelanggan.

"Satu bulan rata-rata Rp 5-7 juta," kata Dewi.

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil mengakui jika tidak mudah menutup lokalisasi Saritem. "Saritem saya laksanakan sesuai Perda. Lokalisasi kan sudah diputuskan untuk tidak ada. Sehingga secara tata ruang kegiatan itu tidak boleh ada lagi. Gagasan yang paling baik adalah membuat fungsi baru. Seperti lapangan, dan ruang terbuka lainnya," kata Ridwan Kamil.

"Tidak mudah memang, tapi asalkan tahu bahwa pada dasarnya semua itu memiliki umur, mungkin ini harus memiliki fungsi baru," tambahnya.

Ridwan Kamil mengungkapkan jika dirinya menyiapkan konsep 'Jaga Lembur' atau menjaga kampung halaman untuk mengubah Saritem.

"Jadi nanti setiap lembur bisa menghasilkan produk kreatif, PSK di sana bisa diberdayakan, karena PR besar saya ada 500 ribu orang miskin yang harus saya bantu. Gerakan satu kampung satu produk kreatif, PSK masuk dalam konstalasi itu," tandasnya.

Berdasarkan sensus tahun 2010, ada sekitar 625 PKS dan germo yang beroperasi di Saritem. Diduga saat ini jumlahnya sudah mulai berkurang.

Saritem sudah identik dengan Kota Bandung. Sama seperti Pasar Kembang di Yogyakarta dan Gang Dolly di Surabaya. [Baca: 8 Kota ini Disebut Kota Seks di Pulau Jawa]
ec