Patung Bahenol di Riau Jadi Kontroversi

Minggu, 29 Januari 2012
Patung Bahenol di Riau Jadi Kontroversi
Patung penari yang berada tepat di jantung kota Pekanbaru, Riau, menuai kontroversi publik padahal patung tersbeut baru sebulan dibangun. Patung tersbeut menampilkan dua sosok pria dan wanita yang tengah menari, sang pria mengenakan peci berada di posisi atas, sedangkan patung wanita posisi di bawah dengan tubuh yang melentik. Dan tubuh melintik inilah yang membuat posisi bokongnya menjadi "bahenol". Posisi bokong bahenol tersebut mengarah ke Kantor Gubernur Riau.

Nama patung itu sendiri juga menjadi bahan perdebatan, awalnya dinamai tugu zapin, sebuah tarian khas Melayu Riau. Namun menuai kritik karena tarian zapin tidak sesuai dengan bentuk patung yang menari itu. Kemudian berganti tugu Titik Nol, sama halnya ama tersbeut juga menuai kritik juga posisinya tidak di titik nol Pekanbaru. Akhirnya kini tugu tersbeut diberi nama Tarian Rakyat.


Namun menurut sejarawan Asvi Marwan Adam, patung tersbeut sama sekali tidak ada sisi bahenol ataupun pornografinya. Hal seperti itu muncul tergantung pada pemikiran orang yang melihatnya.

"Kalau melihatnya 'bahenol' atau pornografi itu ya pikiran orang yang melihat yang porno. Padahal itu karya seni," kata sejarawan Asvi Warman Adam, Sabtu (28/1/2012). "Kita harus menghargai karya seni, menghargai keindahan. Jangan pakai pikiran yang jorok dalam melihat karya seni," tambahnya.

Jika yang terjadi demikian, maka Indonesia layaknya masa Orde Baru di zaman Soeharto. Masa itu, nyaris tidak ada pembangunan monumental kecuali Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

"Padahal pada masa Soekarno, banyak dibangun patung yang membangkitkan semangat kebangsaan. Seperti Patung Perjuangan Irian Barat, Patung Selamat Datang dan Patung Dirgantara," beber Asvi.

Kemunduran ini karena alasan idiologis agama tertentu. Yang menilai patung sebagai simbol berhala yang pernah dihancurkan oleh nabi yang mereka yakini pada waktu lampau.

"Nuansa idiologinya agak kental disini," ungkap Asvi menyudahi pembicaraan.
Komentar