Suku Kanibal Pemakan Otak & Kelamin di Papua Nugini Ditangkap!

Senin, 16 Juli 2012
Suku Kanibal Pemakan Otak & Kelamin di Papua Nugini Ditangkap!

Pihak kepolisian di daerah terpencil Papua Nugini menahan 29 tersangka yang merupakan anggota dari suku kanibal yang diduga telah membunuh sedikitnya tujuh orang. Mereka memakan bagian tubuh orang yang di duga duku, diantaranya memakan bagian otakdan membuat sup dari alat kelamin mereka.

Dikutip dari surat kabar The National, para tersangka adalah anggota kelompok beranggotakan 1.000 yang sengaja dibentuk untuk memerangi dukun yang mematok biaya sangat tinggi, dimana untuk menyebutkan penyebab kematian atau mengusir roh jahat biasanya dipatok dengan harga sebesar 1000 kina (sekitar Rp4,4 juta), ditambah babi dan sekantong beras, bahkan juga meminta berhubungan seks.

“Ini bertentangan dengan etika dan moral tradisi kami bagi seorang dukun untuk melakukan hubungan intim dengan istri orang atau remaja putri,” kata salah seorang pemimpin kultus tersebut di wilayah Tangi, pedalaman provinsi Madang di pesisir timur laut Papua Nugini.

"Hal itu adalah penyebab utama frustrasi yang mengarah pada pembentukan sebuah kelompok untuk memburu para dukun tersebut.”

"Seiring berjalannya waktu, saat para tersangka dibebaskan untuk melanjutkan tugas sebagai dukun, kami sudah bosan dan muak.

Petugas polisi melakukan razia di desa Biamb pada pekan lalu dan menahan 29 orang, delapan diantaranya adalah wanita. Komandan polisi provinsi Madang, Anthony Wagambie mendesak para pengikut kelompok yang lain, yang diyakini berjumlah lebih dari 1.000, untuk menyerah.

Bahkan seorang ahli supranatural lokal yang dikutip surat kabar tersebut berujar jika tindakan yang dilakukan oleh suku tersebut sudah berada diluar budaya mereka, bisa dikatakan pula sebagai pelanggaran.

"Tapi orang-orang ini tidak pernah membunuh dukun di siang hari, memutilasi, dan memakan daging, jantung, dan hati atau membuat sup dari alat kelamin para dukun tersebut," katanya.

"Ini gila dan kanibalisme kelompok itu telah melampaui budaya lokal." "Ini adalah puncak masalah dan masih banyak yang harus dilakukan guna mendidik warga setempat untuk memberantas gerakan tersebut," tambahnya lagi kepada The National.

(Foto @taalk.me/rha)

Berita, Jadwal & Hasil Pertandingan Piala Dunia 2014 Brasil

Komentar